Mon21052012

Last update04:17:15 AM GMT

Mencari Inisiatif Baru Merubah Model Produksi Pangan

Medan-MedanPunya.Com-Pengangkutan makanan antarbenua, produksi monokultur yang intensif, perusakan lahan dan hutan, serta penggunaan bahan kimia dalam pertanian telah mengubah pertanian menjadi konsumsi energi dan memberikan kontribusi terhadap perubahan iklim.

La Via Campesina, sebagai sebuah gerakan rakyat yang menyatukan jutaan petani dan produsen kecil di seluruh dunia menganggap bahwa sudah saatnya untuk secara radikal mengubah cara pandang dalam memproduksi, memperdagangkan dan mengkonsumsi makanan dan produk pertanian. La Via Campesina juga menganggap bahwasanya perusahaan produksi dan konsumsi pangan secara signifikan  memiliki kontribusi pada pemanasan global dan penghancuran masyarakat pedesaan.

"Kami selama ini hidup di hutan beberapa generasi, namun saat ini kami dikriminalisasi karena bertani di hutan," kata Prue Odochao, seorang petani di Thailand.

"Di Korea, kami menghadapi salju dan angin yang kuat dan penurunan panen ketika suhu menurun, hal ini mengakibatkan produksi beras kami menurun dan ini bisa membuat kami, para petani menjadi bangkrut”, sebut Gil Ja, seorang petani Korea.

Di Bangkok, selama konferensi internasional UNFCCC (28 September-9 Oktober 2009), La Via Campesina menuntut posisi UNFCCC untuk tidak keluar dari jalur. Perubahan iklim merupakan hal yang penting karena dampak perubahan iklim telah memperburuk kehidupan petani kecil yang mengakibatkan gagal panen akibat hujan yang tidak normal, kekeringan, dan hama yang menjadi tak terkendali.

Pada saat yang sama, langkah-langkah untuk mencari solusi dengan lembaga internasional seperti Protokol Kyoto dan UNFCCC (United Nations Framework Convention on Climate Change) malah semakin memperburuk keadaan dan bahkan berpotensi merugikan bukan hanya kepada petani kecil, tetapi juga perubahan iklim itu sendiri.  

"Sebagai petani kami membutuhkan air untuk pertanian tapi sekarang air sulit untuk didapatkan, sering terjadi gagal panen dan harga gabah petani yang rendah. Sekarang bertani itu cukup sulit," tegas Henry Saragih dari Serikat Petani Indonesia (SPI) sekaligus Koordinator Umum La Via Campesina, baru-baru ini.

Paralel dengan Konferensi UNFCCC Intersesional, anggota La Via Campesina berusaha mengeksplorasi solusi palsu yang menciptakan dampak bencana kepada masyarakat terutama petani kecil melalui REDD (Pengurangan Emisi dari Deforestasi dan Degradasi) dan proyek-proyek bahan bakar berbahan organik yang mengambil alih jutaan hektar tanah rakyat seperti di Indonesia, Thailand dan negara-negara lain. UNFCCC juga harus melindungi mata pencaharian masyarakat di planet ini.

La Via Campesina percaya bahwa kita harus melaksanakan inisiatif-inisiatif baru yang bertujuan mengubah model produksi. Produksi lokal dan orang-orang yang berbasis sumber daya perlindungan harus didorong karena menggunakan lebih sedikit energi fosil dan mempertahankan mata pencaharian dan masyarakat setempat.

”Petani kecil di seluruh dunia mempertahankan kedaulatan pangan sebagai cara untuk mengatasi krisis iklim. Ini adalah hak rakyat untuk menentukan kebijakan pangan mereka sendiri, dengan prioritas untuk daerah produksi pangan dan pertanian berkelanjutan skala kecil,” tambah Henry Saragih.(mau)
Berikan Komentar
Tambah
Komentar
Nama:
Email:
 
Title:
PERHATIAN: Komentar tidak boleh berisi makian, sara, dan kata-kata vulgar! Terimakasih

!joomlacomment 4.0 Copyright (C) 2009 Compojoom.com . All rights reserved."