Medan(MedanPunya.Com) Pengamat kesehatan meminta Dinas Kesehatan di Provinsi Sumatera Utara melakukan jemput bola untuk mencari masyarakat penderita gizi buruk dan jangan hanya bekerja berdasarkan laporan semata.
"Masih banyak masyarakat yang hidup dibawah garis kemiskinan yang tentunya mereka sangat rentan menderita gizi buruk akibat kurangnya asupan gizi terutama pada balita," kata Pengamat Kesehatan Universitas Sumatera Utara (USU) Destanul Aulia, menanggapi masih banyaknya ditemukan masyarakat yang menderita gizi buruk di beberapa daerah di Sumut.
Ia juga menilai, pola pikir petugas yang menangani masalah kesehatan masyarakat harus diubah dengan lebih disiplin menjalankan tugas dan jangan hanya bekerja jika ada honor atau intensif, terutama jika sudah ada pejabat yang datang berkunjung.
"Pola pikir seperti itu harus segera diubah, bekerjalah dengan niat dan hati yang tulus. Atasan juga jangan cepat merasa puas dengan laporan dari bawahan, kalau bisa langsung turun ke lapangan untuk memeriksa kebenaran dari laporan itu," katanya.
Kepala Bidang pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Sumut, Kustina mengatakan penyebab utama gizi buruk adalah akibat infeksi dan kurangnya balita mengkonsumsi makanan terutama yang kaya akan protein.
Di Sumut sendiri dalam tahun 2011 masih ditemukan sebanyak 375 kasus gizi buruk. Daerah tertinggi adalah Nias yakni Nias Barat 5 orang, Gunung Sitoli 6 orang, Nias Selatan 10 orang dan Nias Utara 6 orang.
Upaya Dinkes Sumut mengatasi itu adalah dengan pemberian dana pendamping perhari sebesar Rp100.000 selama 4 hari dan distribusi makanan pengganti ASI (MPASI) selama 90 hari.
Pemberian MPASI untuk Nias induk sebanyak 1.650 kg, Nias Utara 1.100 kg, Nisel 1.100 kg, Nias Barat 1.100 kg.
"Kalau kasus di Nias faktor penyebab utama gizi buruk adalah karena pendidikan mengenai ilmu gizi yang rendah dan pola perawatan anak yang dilakukan oleh nenek atau kakak yang kurang memahami tentang pemberian makanan bayi," katanya.***mpc/ann/bs