Pangkalan Brandan(MedanPunya.Com) Nelayan yang berada di kecamatan Brandan Barat, Kabupaten Langkat Sumatera Utara, minta aparat berwenang untuk membuka tanggul yang berada di kawasan hutan mangrove Babalan.
"Kami minta agar aparat terkait seperti Satpol PP, Dishutbun, Perikanan dan Kelautan Langkat, untuk membuka tanggul yang melingkup di hutan mangrove Babalan," kata salah seorang tokoh nelayan Pangkalan Brandan, Tajruddin Hasibuan di Pangkalan Brandan, Sabtu (21/1).
Bila tidak ratusan nelayan akan melakukan aks damai membuka tanggul tersebut. Karena tanggul yang ada dan dibuat oleh perusahaan swasta disana, telah menutup akses nelayan untuk menuju laut, katanya.
Hasibuan juga menjelaskan bahwa nelayan tradisional Langkat yang berada di pesisir pantai Pangkalan Berandan, Babalan, Sei Lepan, kini hidupnya semakin memprihatinkan, katanya.
Untuk itulah, kata Hasibuan, pihaknya mendesak mendesak aparat yang berwenang, segera mengembalikan fungsi ekosistem mangrove yang telah di konversi oleh perusahaan Harapan Sawita, dan KUD Mina Murni, yang diduga untuk dijadikan perkebunan sawit.
Tajruddin menduga sekitar 1.385 hektare kawasan hutan Mangrove, telah berubah fungsinya, sehingga ratusan nelayan tradisional telah merasakan dampak secara ekologi maupun ekonomi.
"Akibat ditutupnya akses nelayan tradisional menuju ke laut untuk mencari ikan, kehidupan nelayan semakin parah," tegasnya.
Pihaknya juga sudah menyampaikan hal ini kepada dinas terkait, baik di Langkat, Medan, maupun Jakarta, agar segera memperhatikan nasib nelayan tradisional ini.
"Malah kami merencanakan akan turun bersama ratusan nelayan, untuk membuka tanggul dan benteng yang merusak kawasan hutan mangrove Babalan, Sei Lepan dan Brandan Barat," tegas aktifis nelayan itu menegaskan.***mpc/ann/bs