Medan(MedanPunya.Com) Volume ekspor karet Sumatera Utara pada 2011 hanya naik 4,64 persen dari tahun 2010 atau mencapai 537.668.850 kilogram akibat produksi turun dan melemahnya permintaan di penghujung tahun akibat krisis ekonomi.
"Tetapi meski naik sedikit, masih menggembirakan karena sebelumnya dikhawatirkan justru turun akibat produksi di sentra merosot dan melemahnya permintaan di penghujung tahun," kata Sekretaris Eksekutif Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumut Edy Irwansyah.
Tahun 2010, ekspor karet Sumut 513.811.852 kilogram. Produksi di sentra karet merosot akibat cuaca ekstrem, sementara permintaan yang melemah di penghujung tahun disebabkan dampak krisis ekonomi di Eropa dan Amerika Serikat.
Krisis ekonomi bukan hanya membuat permintaan melemah tetapi juga berdampak pada penekanan harga jual atau tinggal di kisaran 3 dolar an AS per kg dari sebelumnya sempat mencapai 4 - 5 dolar AS per kg.
Namun meski harga melemah di penghujung tahun, secara total nilai eskpor komoditas itu di 2011 masih lebih tinggi dari 2010 karena pada awal tahun harga jual sangat bagus berada di kisaran 4 dolar AS per kg.
Dia mengakui, harga ekspor karet Indonesia jenis SIR 20 pekan ini tren menguat akibat tindakan pemerintah Thailand yang membeli karet petaninya.
Pemerintah Thailand telah membeli sebanyak 200.000 ton karet rakyat ditengah produksinya yang cenderung turun akibat musim gugur daun. Aksi itu diduga menimbulkan kekhawatiran para pedagang internasional, katanya Harga SIR 20 di bursa Singapura misalnya pada 17 Januari untuk pengapalan Februari ditutup 3,545 dolar AS per kg atau naik dari harga di 16 Januari yang 3,406 dolar AS per kg.
Melihat pergerakan harga itu membuat pengusaha Sumut gembira meski kekhawatiran tetap ada. Selain karena krisis ekonomi khususnya di Eropa yang masih berlangsung dan berpotensi membayang-bayangi harga jual di pasar internasional juga adanya rencana pemerintah memberlakukan bea keluar (BK) ekspor.
"Pemerintah diminta jangan menjadikan kenaikan harga dewasa ini untuk memberlakukan BK, karena harga yang naik itu diperhitungkan tidak permanen," katanya.
Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sumut Parlindungan Purba mengatakan, krisis yang masih berlangsung memang "menghantui" pengusaha khususnya yang bergerak di bidang komoditas ekspor.
"Krisis membuat harga ekspor berfluktuasi terus termasuk nilai tukar Rupiah atas dolar AS," katanya.
Meski pengusaha berupaya tetap optimistis, terus terang tetap ada kekhawatiran bisnis berjalan melesu.
"Pemerintah harus mendukung pengusaha untuk bisa tetap eksis.Selain harus membuat kebijakan yang pro pengsuaha, pemerintah diminta meningkatkan infrastruktur," katanya.
Retribusi-retribusi yang membuat hambatan atau menambah beban produksi produk perusahaan seperti BK harusnya ditiadakan, kata Parlindungan yang juga anggota DPD RI utusan Sumut.***mpc/ann/bs
| Berikan Komentar |
|

