Medan(MedanPunya.Com) Petani jagung di Sumatera Utara meminta pemerintah terus menghentikan impor hingga akhir Maret atau awal April 2012, karena sampai bulan itu petani masih panen.
"Petani bersyukur karena sejak penghentian impor di pertengahan Januari, permintaan dan harga jagung lokal terus naik. Petani berharap impor masih dihentikan hingga akhir Maret atau awal April mendatang, karena hinga periode tersebut mereka masih panen," kata Ketua Himpunan Petani Jagung Indonesia (Hipajagin) Jemat Sebayang.
Masa panen jagung di Sumut saat ini terjadi pada periode Januari-Maret dan Juli-September 2012.
Ia mengatakan kalau sedang panen, ada impor, maka harga jagung petani anjlok seperti yang terjadi sejak akhir Desember 2011 hingga awal Januari 2012.
Sedangkan ketika impor terhenti, menurut dia harga jagung lokal naik menjadi Rp2.400 per kg, dari sebelumnya yang hanya Rp1.800 per kg.
Dia menyebutkan Sumut memang harus impor jagung karena produksi belum mencukup kebutuhan khususnya untuk pabrkan pakan yang terus bertambah jumlahnya di daerah itu.
Produksi jagung Sumut hanya sekitar 1,3 juta ton, sementara kebutuhan sebanyak 1,5 juta ton lebih.
"Petani memahami pengusaha memang harus impor, tetepi diharapkan, impor itu dihentikan saat lag masa panen Januari-Maret dan Juli-September," katanya.
Anggota DPD RI dari Sumut Parlindungan Purba mengatakan DPD RI sudah menyampaikan aspirasi petani jagung soal penghentian impor di saat masa panen ke Kementerian Pertanian dan Perdagangan termasuk Pemeirntah Provinsi Sumut.
Aspirasi itu tampaknya mendapat respon positif yang ditandai dengan tidak adanya jagung impor masuk yang otomatis langsung meningkatkan permintaan dan harga jual jagung petani, katanya.
Menurut Parlindungan, sudah saatnya pemerintah kembali melakukan pendataan ulang terhadap produksi, kebutuhan dan musim panane di tanaman hasil pertanian dan perkebunan khususnya yang sebagian besar dikelola rakyat.
Tujuan pendataan ulang, kata dia agar kebijakan yang dibuat program pemerintah sesuai dengan kondisi di lapangan.
"Langkah tersebut dinilai perlu dilakukan segera, mengingat cuaca ekstrem yang masih terjadi yang bukan saja membuat produksi menurun, tetapi juga masa tanam dan panen berubah," katanya.***mpc/ann/bs
| Berikan Komentar |
|

