Tobasa - Ketua komisi C bidang kesejahteraan rakyat DPRD Toba Samosir, Sumatera Utara, Sakkan Siahaan, mengatakan, untuk melestarikan danau Toba perlu tindakan nyata, bukan hanya sekedar berwacana.
"Upaya pelestarian jangan hanya sebatas program yang gagah di atas kertas saja. Tapi, diperlukan tindakan kongkret hingga hasilnya dapat terlihat serta menyentuh langsung terhadap sasaran," ujar Sakkan Siahaan di Balige, Minggu (9/1).
Ia menyebutkan, cukup banyak masyarakat mengeluhkan kondisi hutan yang semakin gundul di pantai barat danau Toba. Sebab, kayu hutan alam dari Huta Ginjang, Tele, Kabupaten Samosir sampai ke Humbang Hasundutan telah mulai habis.
Namun, kata dia, hingga kini belum terlihat tindakan nyata yang dilakukan pihak terkait dalam mengatasinya. Jika hal tersebut dibiarkan berlarut-larut kerusakan hutan akan semakin besar. "Menjaga kelestarian alam, bagi para pelaku pembabat hutan hanya sebatas slogan," tambahnya.
"Dengan sengaja mereka menggunakan kelicikan, modal dan wewenang yang dimilikinya demi mengeruk keuntungan tanpa peduli kelestarian lingkungan danau kebanggaan masayarakat ini," sebutnya.
Kondisi danau Toba, lanjut dia lagi, semakin memprihatinkan dengan kerusakan yang kian meningkat. Bahkan akses danau sudah mengalami gangguan, sebab telah dikuasai perusahaan besar dengan onggokan rumah-rumah apung keramba.
Padahal, kata Sakkan, jika dicermati lebih jauh, tanpa kita sadari residu effect sisa penggunaan pakan ikan dari zat kimia berbahaya tersebut, memiliki peran besar dalam menyumbangkan kerusakan ekosistem danau Toba.
Selain itu, eksploitasi hutan melalui penggantian kayu hutan alam menjadi eukaliptus oleh suatu perusahaan pabrik pulp atas izin pemerintah Orde Baru, dengan peralihan fungsi hutan makin memperparah keadaan. "Maka pelestarian danau Toba haruslah menjadi harga mati yang mutlak harus dilaksanakan, "tegasnya.
Kendalanya bukan sebatas persoalan kemampuan aparat pemerintah menjelaskan manfaat pelestarian kepada masyarakat sekaligus memberitahukan sanksinya apabila dilangggar. Tapi, peraturan yang baik harus diimbangi pelaksanaan yang tepat.
"Danau Toba jangan sempat menjadi jamban umum raksasa yang terbesar di dunia, akibat ketidak pedulian kita semua," kata Sakkan.***mpc-mdn/ann/Rep1