Tobasa - Sahala Simanjuntak, pemerhati pembangunan Toba Samosir menilai, bangunan gapura di Kecamatan Lumbanjulu, Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara, tidak mencerminkan identitas budaya Batak Toba.
"Sebagai gerbang pintu masuk kabupaten, mestinya gapura itu harus bisa menjadi simbol atau perlambang identitas masyarakat Toba Samosir (Tobasa)," kata Sahala di Balige.
Ia mengatakan, pembangunan gapura cukup penting sebagai simbol suatu daerah. Tapi, hiasan gerbang masuk yang berjarak sekitar 40 km dari ibu kota Kabupaten Balige, di perbatasan dengan Kabupaten Simalungun tersebut, jelas tidak menggambarkan suatu nilai Budaya Batak.
Saat orang melintasi gapura, kata Sahala, pikiran akan fokus dengan suasana daerah yang melekat bersama budaya adatnya, dan secara otomatis akan memberi cerminan nilai tentang suasana hidup dan kehidupan di daerah tersebut.
"Padahal pembangunannya pasti menelan dana tidak sedikit, namun hasilnya kurang maksimal. Pelintas yang melewati gapura tidak akan pernah terpengaruh dan tidak terkesan atas tampilannya," sebut Sahala, yang juga Ketua Forum Peduli Pembangunan Kabupaten Tobasa.
Dikatakannya, akan sangat tepat jika nilai budaya etnis Batak dimunculkan melalui cerminan philosopi bermakna berupa motto atau himbauan dalam bahasa daerah, seperti "tampakna do rantosna", "rim ni tahi do gogona" (kebersaman mencerminkan kekuatan).
Idealnya, lanjut dia lagi, setiap bangunan kebesaran harus mengandung nilai historis dan ilmu pengetahuan ditopang bukti yang menguatkan. "Tampilan gapura Lumbanjulu ini, themanya hanya mencerminkan kekerasan beton yang senantiasa bisa dirubuhkan," katanya.
Ia meminta Pemda merancang lagi bangunan yang lebih sesuai dengan melibatkan masyarakat, sehingga karakter gapura bisa terwujud sesuai harapan.***mpc-balige/ann/Rep1