cache/resized/568a86d8d8e289493dd92041cc167676.jpg
Doha(MedanPunya) FIFA secara resmi meluncurkan logo Piala Dunia 2022. Logo Piala Dunia yang akan ...
cache/resized/e7d56ad1eb9b6dc4f18b672b05a683f0.jpg
Bangkok(MedanPunya) Kerajaan Thailand dilaporkan merilis foto selir Raja Maha Vajiralongkorn dalam ...
cache/resized/f695b99f0277758dfe81e7b4284ae74e.jpg
Naples(MedanPunya) Dries Mertens tak menahan diri ketika ditanya soal keputusan Maurizio Sarri ...

Pematangsiantar(MedanPunya.Com) Mariani, istri dari korban penembakan yang terjadi di lahan perkebunan kelapa sawit, Sudirman, menceritakan bagaimana kronologi penembakan yang merenggut nyawa suami dan dua rekannya.

"Pertama kami lagi duduk-duduk ngobrol. Kubilang sama suami, Yah, aku malas kerja. Tunggulah kita benerin dulu rante beko, katanya. Ada 12 pokok (pohon) sawit, 2 lagi belum ditanam. Sana buatkan kopi, udah sore, katanya. Terus datanglah mereka bertiga (pelaku Samidun dan dua rekannya). Gak lama dengar suara tembakan. 4 kali. Kawannya yang dua itu udah lari, naik kereta. Gak lama didatangilah si Hengki. Nangis-nangis dia nyembah-nyembah. Udah tunduk dia, tapi ditembak kepalanya, ditembak dadanya. Siap itu, datang dia (pelaku) ke aku. Kau mau juga?, katanya. Kubilang, ampun. Aku masih punya anak," katanya, Jumat (19/9).

Mariani yang saat kejadian penembakan berada di lokasi kebun dan melihat langsung dengan matanya sendiri menjelaskan, pelaku berusia sekitar 70 tahun, dan merupakan pensiunan tentara. Ia menggunakan pistol pendek. Ia juga sempat diancam dibunuh.

"Pendek pistolnya. Warna hitam. Disuruhnya aku buka celana, gak mau aku. Terus ditamparnya aku empat kali. Terus pigi dia," katanya, sambil menangis.

Mariani mengatakan, ia tidak bisa memperoleh pertolongan, karena kebun sawit tempatnya bekerja jauh dari pemukiman warga.

Dengan tangis yang tak bisa dibendung, Mariani tetap berusaha tegar, sambil menghibur anak semata wayangnya yang masih berusia 3 tahun. "Anakku satu inilah. Muhammad Rehan Hanafi namanya," ujarnya.

Sementara itu, istri korban Zulfahmi Sagala, Sabaria, mengalami nasib yang tak kalah menyedihkan. Dengan tertembaknya suaminya, ia harus mengurus lima anaknya seorang diri.

"Anak saya lima. Tiga masih sekolah. Paling besar 17 tahun. Pelakunya itu udah sering ngancam kami. Dia bilang, tinggalkan dia tempat ini kalau mau selamat," ujarnya.

Sabaria pun mengatakan akan pulang ke Tanjungbalai, ke rumah orangtuanya. "Pulanglah ke Tanjungbalai, gak mungkin lagi ke situ," katanya.

Selain menewaskan tiga pekerja kebun, penembakan di Riau juga mengakibatkan seorang lagi, Erianto Sitorus, luka-luka.

Sebelumnya diberitakan, RSUD Djasamen Saragih kedatangan tiga jenazah korban penembakan dari Riau. Penembakan berlatar belakang sengketa lahan.***trb/mpc/bs

  • 0 komentar
  • Baca 1017 kali