cache/resized/89223fafb7193a09af541cb2610486b2.jpg
Jakarta(MedanPunya) Presiden Joko Widodo menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 17 Tahun 2020 ...
cache/resized/9e51edb2fb71b473d38ba9a7a712fc12.jpg
Washington(MedanPunya) Pemerintah Amerika Serikat tengah menyelidiki intensif apakah virus Corona ...
cache/resized/9a84fa7c035130d22fadbbf8666b577e.jpg
Medan(MedanPunya) Kapolda Sumatera Utara (Sumut) Irjen Martuani Sormin meminta semua pihak mematuhi ...

Pematangsiantar(MedanPunya) Camat Siantar, Kabupaten Simalungun, Daniel Silalahi mengaku sudah mengetahui kondisi keluarga Ponimin dengan dua anaknya yang tinggal di gubuk reot rawan rubuh.

Ia mengatakan sudah menemukan satu bidang tanah milik wakaf masyarakat untuk diberikan kepada keluarga Ponimin. Namun, Daniel masih harus meminta persetujuan dari masyarakat.

"Kami sedang upayakan tanah wakaf masyarakat. Kami tunggu dulu persetujuan dari warga. Lalu, kami bantu lagi. Kami utamakan dulu rumah layak huni," ujarnya, Selasa (21/5).

Silalahi berpendapat rumah yang ditempati Ponimin memang tidak layak ditempati. Apalagi, lantai rumah langsung tanah. Namun, Daniel mengaku tidak dapat melakukan program bedah rumah langsung karena,rumah yang ditempati keluarga Ponimin milik orang lain. Kata Daniel, keluarga Ponimin masuk dalam daftar Program Keluarga Harapan (PKH).

Camat yang baru saja mendatangi rumah itu mengatakan cukup prihatin dengan kondisi rumah tersebut. Ia juga menilai rumah itu rawan rubuh.

Diketahui, keluarga Ponimin (54) dengan istrinya Endang Suryani (51) tinggal di sebuah gubuk bekas pondok tempat berisitirahat petani padi. Ponimin tinggal di gubuk itu bersama dengan dua anaknya dan mertuanya yang mengalami kebutaan. Keluarga ini telah tinggal selama enam tahun tanpa penerangan listrik

Amatan, rumah itu tepat berada di tengah hamparan sawah di Nagori Karang Bangun, Kecamatan Siantar, Kabupaten Simalungun. Rumah berdinding papan itu dalam kondisi rawan ambruk.

Atap rumah berbahan seng sudah tampak bocor. Lantai juga hanya sebagian yang dilapisi dengan semen. Rumah dengan ukuran 2 meter x 2 meter itu hanya memiliki satu ruang.

Dalam satu ruangan itu digunakan untuk memasak dan tempat tidur. Ruangan itu tampak berantakan. Keperluan memasak dan kasur begitu berdekatan. Ruangan juga tampak jorok karena tanah yang berserakan.

Rumah ini tidak memiliki kamar mandi. Untuk mandi, keluarga Ponimin memanfaatkan irigasi sawah yang mengalir. Begitu juga dengan membuang air atau pun menyuci. Selain tidak memiliki kamar mandi, rumah yang ditutupi pohon itu juga tidak teraliri listrik. Ponimin menggunakan lampu teplok ketika gelap datang.

Ponimin menceritakan keluarga bermarga Purba memberikan pondok itu ditempati sekitar enam tahun lalu. Ponimin diberi tugas menjaga sawah dari serangan burung. Ia pindah ke gubuk itu karena rumah sebelumnya yang juga atas pemberian orang dijual.***trb/mpc/bs



  • 0 komentar
  • Baca 275 kali