cache/resized/e7c744cd89e31cec761eab760e829fec.jpg
Medan(MedanPunya) Gubernur Edy Rahmayadi menegaskan keharusan Apatur Sipil Negara (ASN) Sumatera ...
cache/resized/6039b8c3883e38106b1a3814f7533f80.jpg
Jakarta(MedanPunya)  KPK mengamankan Wali Kota Medan Dzulmi Eldin dalam operasi tangkap tangan ...
cache/resized/f86de64f77ac713dca1ea98db290abda.jpg
Jakarta(MedanPunya) Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati ikut buka suara terkait banyaknya ...

Medan(MedanPunya) Thamrin Ritonga orang kepercayaan Bupati Nonaktif Labuhanbatu Pangonal Harahap terbengong saat divonis penjara 4 tahun 6 bulan di Pengadilan Tipikor Medan, Senin (27/5).

Selain itu, Majelis Hakim yang dipimpin Syafril Batubara juga membebankan denda sebesar Rp 200 juta dengan subsider 4 tahun bulan kurungan.

"Dengan ini menyatakan bahwa terdakwa Thamrin Ritonga terbukti terlibat secara bersama-sama dan mengetahui korupsi berlanjut. Menjatuhkan vonis dengan 4 tahun dan 6 bulan penjara serta denda sebesar Rp 200 juta dengan ketentuan apabila tidak dibayar diganti dengan pidana kurungan selama 4 bulan," tutur Hakim.

Meskipun dalam tuntutan Jaksa KPK sebelumnya, terdakwa tidak terbukti menikmati uang hasil suap yang diterima Bupati Pangonal sebesar Rp 42.280.000.000 serta SGD 218.000 dari pengusaha Efendy Sahputra alias Asiong.

Hakim berpendapat bahwa terdakwa mengetahui proses suap menyuap dari Asiong kepada Pangonal. Dan dapat dikenakan Pasal 12 huruf a UU RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

"Dalam perkara ini terdakwa terbukti bersalah karena turut serta bersama dalam melakukan perbuatan sebagaimana disebut dalam Pasal 12 huruf a. Khususnya menerima suap dimana terdakwa mengetahui bahwa uang yang diterima dari Pangonal sebagai fee proyek agar memberikan proyek-proyek yang ada di lingkungan Pemkab Labuhan Batu," tutur Hakim dalam amar putusan.

Bagi Hakim hal yang memberatkan terdakwa karena tidak mendukung pemerintah untuk memberantas tindak pidana korupasi.

"Hal yang meringankan karena terdakwa Thamrin berjanji dan menyesali perbuatannya serta mempunyai tanggungan keluarga anak dan istri yang harus dibiayai," ungkap Hakim Syafril.

Selama persidangan, Thamrin yang mengenakan baju koko cokelat lengan panjang serta peci kuning ini tampak tertunduk dan sesekali menatap Hakim yang membacakan putusan.

Usai dibacakan putusan tersebut, Thamrin tampak kebingungan, ia tampak melihat ke kanan dan ke kiri saat ditanyai Hakim Syafril bagaimana tanggapan terhadap putusan tersebut.

Bahkan, Thamrin tampak berdiskusi dengan pengacaranya dan meminta supaya amar putusan dibacakan ulang. Permintaan tersebut dituruti hakim..

Terdakwa melalui pengacaranya mengakui masih akan pikir-pikir terhadap putusan tersebut. Begitu juga Jaksa KPK juga menyatakan pikir-pikir terhadap putusan tersebut.

Putusan ini jauh lebih rendah dari tuntutan Jaksa yaitu penjara 5 tahun dengan dengan denda Rp 200 juta subsider 4 bulan.

Usai persidangan, Thamrin langsung menyalami ketiga hakim dan seluruh Jaksa KPK. Dengan mata berkaca-kaca Thamrin langsung mendatangi keluarganya yang telah menunggu di ruang sidang cakra utama.

Langsung saja, Thamrin ikut memeluk istrinya yang mengenakan jilbab biru dan ikut menangis bersama keluarga.***trb/mpc/bs



  • 0 komentar
  • Baca 150 kali