cache/resized/e7c744cd89e31cec761eab760e829fec.jpg
Medan(MedanPunya) Gubernur Edy Rahmayadi menegaskan keharusan Apatur Sipil Negara (ASN) Sumatera ...
cache/resized/6039b8c3883e38106b1a3814f7533f80.jpg
Jakarta(MedanPunya)  KPK mengamankan Wali Kota Medan Dzulmi Eldin dalam operasi tangkap tangan ...
cache/resized/f86de64f77ac713dca1ea98db290abda.jpg
Jakarta(MedanPunya) Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati ikut buka suara terkait banyaknya ...

Medan(MedanPunya) Kondisi seekor harimau sumatra yang diamankan petugas Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) di Desa Hutabargot, Kecamatan Sosopan, Kabupaten Padanglawas, Sumatera Utara, pada bulan lalu mulai berangsur pulih.

Beberapa hari setelah ditangkap petugas pada Selasa (16/7/2019) lalu, harimau jantan bernama Palas yang kerap masuk di pemukiman warga itu menjalani operasi untuk melepas sling atau kawat jerat pada kaki depan bagian kanan.

"Saat ditangkap petugas, kondisi Palas memang dalam keadaan terluka karena terkena jeratan pemburu," kata Kepala Bidang Teknis BBKSDA Sumut, Irzal Azhar, Jumat (2/8).

Harimau itu kini dalam pengawasan ketat Pusat Rehabilitasi Harimau Sumatera Dharmasraya (PRHSD) di Padang, Sumatera Barat.

Proses monitoring harimau Palas hampir rampung pascaoperasi. Monitoring terhadap harimau itu sendiri dilakukan selama 14 hari setelah operasi.

"Saat ini kondisinya mulai membaik. Jaringan yang terluka atau rusak sudah mulai tumbuh," bebernya.

Begitupun, pemantauan terhadap harimau itu masih akan terus dilakukan hingga jaringan yang terluka benar-benar sembuh.

Setelah dinilai mampu dan kuat untuk memburu mangsa di hutan, harimau itu akan kembali dilepasliarkan.

Azhar belum berani memastikan kapan harimau itu dilepas kembali. Hutan tempat dilepas juga belum bisa dipastikan.

"Pasti nanti akan dilepas ke hutan kembali. Tak perlu direhabilitasi lagi karena harimau itu sudah liar sejak awal," ujarnya.

Harimau itu kini dalam pengawasan ketat Pusat Rehabilitasi Harimau Sumatera Dharmasraya (PRHSD) di Padang, Sumatera Barat.

Proses monitoring harimau Palas hampir rampung pascaoperasi. Monitoring terhadap harimau itu sendiri dilakukan selama 14 hari setelah operasi.

"Saat ini kondisinya mulai membaik. Jaringan yang terluka atau rusak sudah mulai tumbuh," bebernya.

Begitupun, pemantauan terhadap harimau itu masih akan terus dilakukan hingga jaringan yang terluka benar-benar sembuh.

Setelah dinilai mampu dan kuat untuk memburu mangsa di hutan, harimau itu akan kembali dilepasliarkan.

Azhar belum berani memastikan kapan harimau itu dilepas kembali. Hutan tempat dilepas juga belum bisa dipastikan.

"Pasti nanti akan dilepas ke hutan kembali. Tak perlu direhabilitasi lagi karena harimau itu sudah liar sejak awal," ujarnya.

Harimau ini ditangkap petugas kerena diduga kerap masuk ke pemukiman dan beberapa kali menyerang warga.

Harimau ini diduga merupakan harimau yang berkonflik dengan manusia akhir-akhir ini.

Awalnya, pada 13 Maret 2019 di Desa Pagarambira Julu, Kecamatan Sosopan, Kabupaten Padanglawas harimau berkeliaran di areal kebun dan memangsa ternak kambing peliharaan warga.

Selanjutnya memakan korban jiwa dimana seorang warga atas nama Abu Sali Hasibuan, penduduk Desa Siraisan, Kecamatan Ulu Barumun, Kabupaten Padang Lawas, tewas mengenaskan setelah diterkam harimau pada tanggal 16 Mei 2019.

Kemudian, Faisal Hendri Hasibuan, penduduk Desa Pagaran Bira Jae, Kecamatan Sosopan, Kabupaten Padang Lawas, luka kritis juga akibat serangan harimau pada tanggal 26 Mei 2019.

Sejak konflik ini, Tim Satgas Penanggulangan terdiri dari BBKSDA Sumut,Pemkab Palas, Kepolisian, TNI dan lembaga mitra kerjasama melakukan patroli bersama di lapangan, pemasangan camera trap, serta pembuatan kandang jebak.

Sebelum terperangkap, harimau diketahui memasuki perkampungandan memakan monyet peliharaan warga pada tanggal 10 Juli 2019, serta ayam peliharaan.***trb/mpc/bs






  • 0 komentar
  • Baca 108 kali