cache/resized/568a86d8d8e289493dd92041cc167676.jpg
Doha(MedanPunya) FIFA secara resmi meluncurkan logo Piala Dunia 2022. Logo Piala Dunia yang akan ...
cache/resized/e7d56ad1eb9b6dc4f18b672b05a683f0.jpg
Bangkok(MedanPunya) Kerajaan Thailand dilaporkan merilis foto selir Raja Maha Vajiralongkorn dalam ...
cache/resized/f695b99f0277758dfe81e7b4284ae74e.jpg
Naples(MedanPunya) Dries Mertens tak menahan diri ketika ditanya soal keputusan Maurizio Sarri ...

Pematangsiantar(MedanPunya.Com) Sidang perkara kasus penipuan, pemerasan, perampasan hak milik dengan terdakwa Briptu Idran Ismi dkk kembali digelar di Pengadilan Negeri Pematangsiantar, Senin (22/9).

Tak seperti sidang beberapa waktu terakhir, sidang kali ini tidak lagi dikawal oleh Brimob bersenjata. Persidangan dibuka dengan agenda mendengarkan keterangan dari saksi A de Charge (saksi yang meringankan) Khalik, Dedek Ismail, dan Agus Santoso.

Saksi Khalik, yang pertama kali memberikan keterangan, mengaku ia sempat ditangkap dan dilepas saat berada di rumah Ismi di Tanjungbalai. Ismi kemudian menambahkan bahwa Khalik dilepas setelah membayar uang tebusan Rp 35 juta plus tambahan sepeda motor yang ditahan.

Sebelumnya wakil Ketua LPSK Lili Pintauli Siregar, yang dijadwalkan akan hadir juga sebagai saksi A de Charge, batal datang. Ia baru bisa hadir untuk Selasa pekan depan, 30 September 2014.

Saksi berikutnya, Dedek Ismail dan Agus Santoso, mengaku kenal dengan Edwin Sitorus, sosok yang meminjampakai barang bukti mobil Pajero Sport yang menurut hakim merupakan pemililknya.

Edwin Sitorus, menurut mereka, bekerja sebagai penjaga gudang, buruh penjaga ikan, dan guru ngaji. Edwin Sitorus sehari-hari dikenal sebagai Roya Edwin.

Menurut Dedek, Edwin Sitorus tak pernah mengendarai mobil tersebut. Kedua saksi mengaku tahu bahwa korban Iqbal, merupakan bandar narkoba di Tanjungbalai.

Sebelum sidang ditutup, penasihat hukum terdakwa Ismi dkk, Irsad Lubis, pun memohon kepada majelis untuk menghadirkan Lili, Selasa pekan depan.

Hakim menawarkan agar saksi Lili memberikan keterangan secara tertulis. "Kami melihat ini dari pribadi dia, bukan dari LPSK. Makanya kami sarankan pakai surat tertulis saja, kalau memang seperti yang saudara katakan,"

Jaksa penuntut umum, Agus Salim Nasution, keberatan dengan permintaan penasihat hukum Ismi. "Kami keberatan, Majelis. Supaya waktu persidangan ini lebih efisien,"

Setelah berdebat beberapa saat, hakim akhirnya memberikan kesempatan terakhir kepada penasihat hukum Ismi.
"Resikonya kita siap mengadakan persidangan secara maraton (sidang setiap hari). Dan keberatan dari penuntut umum kami catat dalam berkas," ujar Hakim Martua Sagala.

JPU pun diminta untuk mempersiapkan tuntutannya pada tanggal 1 Oktober 2014. "Kami ingatkan penuntut umum agar menyiapkan tuntutan pada 1 Oktober," kata hakim.

Sidang pun ditutup dan akan dilanjutkan pada 30 September 2014, dengan agenda mendengarkan keterangan saksi A de Charge Lili Pintauli Siregar.***trb/mpc/bs

  • 0 komentar
  • Baca 1016 kali