cache/resized/82b6617f94ea680115c3ba247773a2d5.jpg
New York(MedanPunya) Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengeluarkan kritikan kepada ...
cache/resized/d62aab24d5771b45119d776c93896d07.jpg
New York(MedanPunya) Sidang Umum PBB di New York, Amerika Serikat, dipenuhi gelak tawa ketika ...
cache/resized/76b9581d19f7a1774f274fcf0a44d676.jpg
MedanPunya - Putri Diana meninggal dunia dalam kecelakaan tragis yang terjadi di Paris pada tahun ...

Washington(MedanPunya) Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Mike Pompeo, mengatakan Washington akan menerapkan sanksi kepada Iran yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah.

Langkah ini ditempuh menyusul keputusan Presiden Trump untuk mundur dari kesepakatan nuklir Iran.

Ketika memaparkan 12 syarat bagi kesepakatan baru, Pompeo mengatakan Amerika Serikat (AS) akan memberikan tekanan bersejarah terhadap Iran untuk membatalkan ambisi nuklir dan rudal balistiknya.

Dalam pidato di Washington, Senin (21/5), Pompeo mengatakan Iran akan "kesulitan menopang perekonomiannya" setelah sanksi-sanksi tersebut diberlakukan.

Namun demikian, ia tidak membeberkan sanksi-sanksi baru yang akan dijatuhkan. Ia hanya mengatakan bahwa sanksi yang dijatuhkan kepada gubernur bank sentral Iran pekan lalu "hanyalah permulaan".

Pernyataan keras itu langsung ditanggapi oleh Iran dengan nada keras pula.

Presiden Hassan Rouhani mempertanyakan kredibilitas Mike Pompeo dengan mengatakan, "Siapa Anda kok berani membuat keputusan untuk Iran dan dunia?"

Dikatakan oleh Menlu Mike Pompeo bahwa AS bersedia merundingkan "kesepakatan baru" dengan Iran selama negara itu memenuhi 12 syarat.

Syarat-syarat itu antara lain adalah:

    Iran harus menarik pasukannya dari Suriah dan tidak lagi mendukung pemberontak di Yaman
    Memberikan data menyeluruh kepada Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) tentang program militer nuklir sebelumnya, dan membatalkan program seperti itu selamanya
    Mengakhiri "tingkah laku yang mengancam" negara-negara tetangga, termasuk "ancaman untuk menghancurkan Israel dan menembakkan rudal ke Arab Saudi serta Uni Emirat Arab"
    Membebaskan semua warga negara Amerika Serikat, dan warga negara mitra-mitra AS, yang "ditahan atas dakwaan palsu atau hilang di Iran"

Presiden Trump mengumumkan Amerika Serikat keluar dari kesepakatan nuklir mulai tanggal 8 Mei lalu.

Berdasarkan kesepakatan yang ditandatangani oleh Iran, Inggris, Amerika Serikat, Prancis, Jerman, Rusia, Cina dan Uni Eropa pada tahun 2015 itu, Iran membatasi aktivitas nuklirnya sebagai imbalan atas pelonggaran sanksi ekonomi yang sebelumnya diberlakukan oleh PBB, Uni Eropa, dan Amerika Serikat.

Tetapi Amerika Serikat, di bawah pemerintahan Presiden Trump, memutuskan menarik diri dari kesepakatan.

Langkah tersebut tidak hanya merepotkan pemerintah negara-negara yang terlibat, tetapi juga menghebohkan dunia usaha sebab banyak perusahaan besar Eropa langsung memutuskan untuk menjalin bisnis dengan Iran begitu sanksi dicabut.

Kini perusahaan-perusahaan itu dihadapkan pada pilihan tetap berinvestasi di Iran atau berbisnis dengan Amerika Serikat.

Dalam keterangannya, Menlu AS Mike Pompeo menegaskan bahwa sanksi-sanksi yang dicabut setelah kesepakatan tahun 2015 itu kini akan diberlakukan kembali. Sanksi-sanksi tersebut, ditambah dengan sanksi-sanksi baru secara bersama-sama akan menimbulkan "tekanan keuangan yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap rezim Iran".

Berdasarkan sanksi lama AS, hampir semua bentuk dagang dengan Iran dilarang. Yang dikecualikan adalah aktivitas perdagangan "untuk kepentingan rakyat Iran" seperti ekspor produk kesehatan dan peralatan pertanian.***dtc/mpc/bs

  • 0 komentar
  • Baca 190 kali