cache/resized/2b2c034cf620b2a0f357c14287c0a073.jpg
Washington(MedanPunya) Otoritas Amerika Serikat (AS) resmi mendakwa Presiden Venezuela, Nicolas ...
cache/resized/de63f0d2a22d502cee5872cc2ecad34c.jpg
MedanPunya - Menyusul ponsel orang terkaya dunia, Jeff Bezos, diretas melalui file video yang ...
cache/resized/e8817f3e820125f5141ada3a1cb021dd.jpg
Teheran(MedanPunya) Seorang anggota parlemen Iran menawarkan uang sebesar US$ 3 juta (Rp 40,3 ...

London(MedanPunya.Com) Seorang penulis Jerman mendapat kesempatan langka mendatangi wilayah yang dikuasai kelompok militan yang menamakan diri Negara Islam atau yang dulu disebut ISIS.

Juergen Todenhoefer, mantan politikus Jerman, merupakan satu-satunya orang luar Suriah yang melakukan perjalanan jauh ke wilayah yang dikuasai ISIS dan kembali dengan selamat.

Perjalanan ini dianggap berisiko karena sejumlah orang Barat yang ditangkap kelompok ISIS kemudian dipenggal kepalanya baru-baru ini.

Dia menghabiskan enam hari selama tinggal di Kota Mosul, Irak, setelah melakukan perjalanan dari Raqqa, Suriah.

Todenhoefer mengatakan melihat para pengikut ISIS sangat termotivasi dan mendukung aksi-aksi brutal kelompok tersebut.

Dia juga mengatakan kekuatan mereka yang terpencar membuat mereka sulit diserang melalui udara.

Di kota Mosul, yang dikuasai ISIS sejak Juni lalu, Todenhoefer melihat bagaimana kelompok ini memaksakan versi ekstrim Islam Sunni.

Masih di di tempat itu juga, dia melihat pula poster berisi instruksi tentang posisi shalat yang dianggap paling benar dan memberi tahu kaum perempuan untuk menutup seluruh bagian tubuhnya.

Penduduk di wilayah itu, misalnya, dilarang mengenakan pakaian yang dianggap identik dengan "kaum kafir".

Gambar di papan iklan ditutup dan beberapa toko buku menampilkan pamflet dan buku-buku tentang hukum agama, termasuk bagaimana etika memperlakukan budak.

Todenhoefer bertemu anak-anak yang menggotong senjata dan berteriak mendukung sistem 'khalifah'. Di antara mereka ada yang direkrut dari Inggris, Amerika Serikat, Swedia, serta Trinidad dan Tobago.

Dia mengaku terpukul oleh semangat brutal para pengikut ISIS, yang disebutnya sangat berambisi melaksanakan 'pembersihan atas nama agama' dan memperluas wilayah mereka.

"Ada antusiasme yang belum pernah saya lihat sebelumnya di medan perang lainnya," katanya.***dtc/mpc/bs

  • 0 komentar
  • Baca 941 kali