cache/resized/568a86d8d8e289493dd92041cc167676.jpg
Doha(MedanPunya) FIFA secara resmi meluncurkan logo Piala Dunia 2022. Logo Piala Dunia yang akan ...
cache/resized/e7d56ad1eb9b6dc4f18b672b05a683f0.jpg
Bangkok(MedanPunya) Kerajaan Thailand dilaporkan merilis foto selir Raja Maha Vajiralongkorn dalam ...
cache/resized/f695b99f0277758dfe81e7b4284ae74e.jpg
Naples(MedanPunya) Dries Mertens tak menahan diri ketika ditanya soal keputusan Maurizio Sarri ...

Teheran(MedanPunya) Presiden Iran Hassan Rouhani menegaskan bahwa negaranya tidak akan menyerah meskipun dibombardir dan rakyatnya tewas, terluka dan ditangkap.

Penegasan itu disampaikan Rouhani dalam pidatonya di depan para veteran perang di Teheran, di tengah meningkatnya ketegangan antara Teheran dan Washington, serta meningkatnya kekhawatiran akan kemungkinan konfrontasi militer antara kedua negara.

"Iran tidak akan menyerah [mengejar] tujuan mempertahankan kemerdekaan dan martabatnya bahkan jika dibombardir dan orang-orangnya menjadi martir, terluka, dan ditangkap," kata Rouhani.

Rouhani menekankan bahwa selama perang Iran dengan mantan diktator Irak Saddam Hussein pada 1980-an, Republik Islam itu berada di bawah tekanan serangan militer dan pendudukan wilayahnya, tetapi sekarang "dihadapkan dengan perang ekonomi dan serangan terhadap kesejahteraan rakyat."Menurut Rouhani, perang baru tersebut lebih kompleks daripada perang sebelumnya. Pemimpin Iran itu pun menyerukan bangsanya untuk terus melawan dan bersatu menghadapi hegemoni AS.

Rouhani menegaskan, Iran tak akan menyerah secara terhina dalam menghadapi sanksi-sanksi AS. "Kita akan mengalahkan musuh lewat pengorbanan dan persatuan," tandasnya.

"Saya secara eksplisit menyatakan bahwa bangsa Iran akan mengalahkan AS, rezim Israel, dan kaum reaksioner regional lewat perlawanan dan persatuan," kata Presiden Iran itu.

Ketegangan antara Washington dan Teheran telah meningkat seiring AS mengerahkan sebuah kapal induk dan pesawat-pesawat pengebom B-52 ke kawasan Teluk Persia. Pengerahan itu disebut Washington untuk menghadapi apa yang mereka sebut sebagai "ancaman" Iran.

Hubungan AS dan Iran makin memanas sejak Presiden Donald Trump menarik AS dari kesepakatan nuklir antara Iran dan negara-negara kekuatan dunia yang disepakati tahun 2015. Di bawah kesepakatan itu, Iran sepakat membatasi kapasitas pengayaan uranium dan mendapatkan keringanan sanksi sebagai imbalannya.

Setelah AS mundur dari kesepakatan itu, Trump kembali memberlakukan sanksi terhadap Iran sejak tahun lalu dan meningkatkannya beberapa bulan terakhir. Secara terang-terangan, Trump meminta seluruh negara untuk menghentikan impor minyak Iran atau terancam menghadapi sanksi-sanksi AS.

Otoritas AS berupaya mendorong Iran untuk melakukan perundingan terbaru soal kesepakatan pengendalian senjata yang lebih luas. Namun Iran berulang kali menolak perundingan selama AS masih menarik diri dari kesepakatan nuklir itu.***dtc/mpc/bs

  • 0 komentar
  • Baca 102 kali