Cetak halaman ini

New York(MedanPunya) Tahun lalu, jumlah orang yang melarikan diri dari perang, penganiayaan, serta konflik telah melebihi 70 juta orang. Mereka harus menyeberangi perairan, mendaki gunung, di tengah cuaca yang ekstrim demi mendapat kehidupan baru.

Pada setiap tahunnya, 20 Juni diperingati sebagai Hari Pengungsi Dunia dan data terbaru menunjukkan sebanyak 70,8 juta orang telah dipaksa meninggalkan rumah mereka.

Angka ini adalah angka tertinggi yang pernah dilihat oleh Badan Pengungsi PBB, UNHCR, dalam 70 tahun terakhir.

25,9 juta diantaranya terpaksa keluar dari negara mereka, dikenal dengan sebutan 'refugee' atau pengungsi. Saat ini setengah dari pengungsi di dunia berusia di bawah 18 tahun.

Ada pula jutaan orang yang tidak memiliki status kewarganegaraan, atau stateless.

Mereka telah meninggalkan negaranya, namun di negara baru mereka belum mendapat status warga negara atau bahkan telah ditolak permohonannya sehingga kehilangan haknya, seperti mendapatkan pendidikan, akses kesehatan, atau pekerjaan.

Pengungsi terbanyak di dunia berasal dari Suriah, dengan jumlah 6,7 juta, diikuti dengan warga Afghanistan (2,7 juta) dan Sudan Selatan (2,3 juta).

"Kebanyakan dari pengungsi memilih negara-negara terdekat sebagai tujuannya mendapat harapan baru", laporan UNHCR menyebutkan.

Turki, salah satunya, yang menjadi negara yang menerima pengungsi terbanyak, yang saat ini sudah mencapai 3,7 juta orang.

Pakistan, Uganda, Sudan, masing-masing berada di posisi kedua, ketiga, dan keempat negara yang paling banyak menerima pengungsi.

Jerman menjadi satu-satunya negara barat yang paling banyak menerima pengungsi, dengan jumlah 1,1 juta orang.

Sementara itu jumlah pencari suaka atau 'asylum seeker' saat ini berjumlah 3,5 juta. Mereka yang dikategorikan pencari suaka adalah yang sudah menerima perlindungan internasional tetapi masih menunggu status mereka.

Hingga akhir tahun 2018, ada lebih dari 60 ribu orang pengungsi yang sudah mengajukan permohonan mencari suaka di Australia dan hingga kini masih menunggu kepastian.

Jumlah ini telah meningkat dua kali lipat dibandingkan tahun 2016 lalu dan salah satu penyebabnya adalah adanya peningkatan yang signifikan dari mereka yang mencari suaka dan tiba di Australia dengan menggunakan pesawat terbang atau istilahnya 'plane people'.

Sejumlah pengamat dan politisi menilai jumlah 'plane people' yang mencari suaka di Australia telah mencapai angka yang tertinggi dalam sejarah, meski saat ini Australia menjadi rumah bagi kurang dari 0,1 persen pengungsi dunia.

Lembaga survei global IPSOS menemukan meski 63 persen warga Australia mendukung hak manusia untuk mengungsi, di saat bersamaan dukungan untuk menutup perbatasan juga meningkat.

"Pandangan yang lebih negatif soal pengungsi ini juga menunjukkan bahwa opini warga dipengaruhi oleh diskusi politik dan di media soal strategi pemerintah menghentikan perahu datang ke Australia," kata David Elliot, Direktur IPSOS Australia seperti yang dikutip dari SBS.

Sementara itu, Direktur UNHCR pernah mengatakan meski tidak semua pengungsi memiliki alasan yang murni, tidak berarti mengabaikan penderitaan dan kesulitan yang dialami kebanyakan pengungsi.

"Beberapa orang memang mencari peluang ekonomi yang lebih baik, tapi yang lainnya benar-benar melarikan diri [dari negara mereka] karena mengalami kekerasan yang mengerikan."***dtc/mpc/bs

  • 0 komentar
  • Baca 89 kali