cache/resized/f695b99f0277758dfe81e7b4284ae74e.jpg
Naples(MedanPunya) Dries Mertens tak menahan diri ketika ditanya soal keputusan Maurizio Sarri ...
cache/resized/f95acf087ea3c8aaa4510ffa1381d291.jpg
Pyongyang(MedanPunya) Pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong Un dikabarkan meminta uang kepada ...
cache/resized/a169e5794c5351a617f5fa2480cc01f3.jpg
Beijing(MedanPunya) Citra satelit terbaru menunjukkan aktivitas China yang tengah membuat kapal ...

Washington(MedanPunya) China disebut telah melakukan uji coba rudal antikapal di perairan Laut China Selatan dalam beberapa hari terakhir. Uji coba rudal dilaporkan digelar di sekitar Spratly Islands yang menjadi sengketa di Laut China Selatan.

Informasi soal uji coba rudal antikapal oleh China ini diungkapkan oleh militer Amerika Serikat (AS) dalam pernyataan terbaru.

"Pentagon (Departemen Pertahanan AS-red) menyadari adanya peluncuran rudal China dari struktur buatan di Laut China Selatan, dekat Spratly Islands," sebut juru bicara militer AS, Letnan Kolonel Dave Eastburn.

Dalam pemberitahuan awal pada Sabtu (29/6) lalu, China menyatakan pihaknya akan melakukan latihan militer hingga Rabu (3/7) waktu setempat di sejumlah besar area Laut China Selatan, atau sebelah utara Spratly Islands. Uji coba rudal yang dilakukan China merupakan bagian dari latihan militer tersebut.

NBC News yang pertama melaporkan uji coba rudal itu dengan mengutip sejumlah pejabat AS yang tak disebut namanya, menyatakan akan digelar lebih banyak uji coba dalam waktu mendatang.

Belum ada komentar resmi dari otoritas China terkait uji coba rudal ini. Diketahui bahwa China telah mengklaim wilayah perairan seluas 1,3 juta mil persegi di Laut China Selatan, termasuk area Spratly Islands, sebagai wilayah kedaulatannya. Area yang sama juga diklaim oleh beberapa negara seperti Filipina, Vietnam dan Taiwan.

Untuk mempertegas klaimnya, China telah membangun dan membentengi pulau-pulau buatan di area tersebut. Aksi China itu bertentangan dengan janji Presiden Xi Jinping dalam kunjungan ke Gedung Putih AS tahun 2015 yang menyatakan pulau-pulau buatan di Laut China Selatan tidak akan menjadi pos militer.

"Sungguh mengganggu bahwa fakta ini merupakan kontradiksi langsung dari pernyataan Presiden Xi... bahwa dia tidak akan memiliterisasi pulau buatan itu," sebut Eastburn dalam pernyataannya.

"Saya tidak berbicara mewakili negara-negara berdaulat di kawasan tersebut, tapi saya yakin mereka setuju bahwa perilaku (China) itu bertentangan dengan klaimnya untuk membawa perdamaian ke kawasan tersebut dan jelas bahwa tindakan semacam ini merupakan aksi koersif yang dimaksudkan untuk mengintimidasi pengklaim (Laut China Selatan) lainnya," imbuhnya.***dtc/mpc/bs

  • 0 komentar
  • Baca 55 kali