cache/resized/e7c744cd89e31cec761eab760e829fec.jpg
Medan(MedanPunya) Gubernur Edy Rahmayadi menegaskan keharusan Apatur Sipil Negara (ASN) Sumatera ...
cache/resized/6039b8c3883e38106b1a3814f7533f80.jpg
Jakarta(MedanPunya)  KPK mengamankan Wali Kota Medan Dzulmi Eldin dalam operasi tangkap tangan ...
cache/resized/f86de64f77ac713dca1ea98db290abda.jpg
Jakarta(MedanPunya) Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati ikut buka suara terkait banyaknya ...

Wellington(MedanPunya) Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern menanggapi komentar Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang dianggap xenofobia dan rasis.

Ardern membela empat anggota perempuan Kongres AS dari Partai Demokrat yang disebut Trump berasal dari negara dengan pemerintahan korup dan hancur lebur. Pemimpin muda kharismatik yang sering dijuluki "anti-Trump" oleh media AS itu mengatakan, dia bangga dengan keberagaman yang terjadi di negaranya.

"Biasanya, saya tidak akan mencampuri politik seseorang. Namun kali ini, saya ingin memastikan kepada semua orang bahwa saya tidak setuju dengannya (Trump)," kata Ardern.

Pada Minggu (14/7) melalui kicauannya di Twitter, meminta kepada keempat anggota perempuan Kongres AS yang dianggap progresif untuk kembali ke "negara asal" mereka.

Dia melanjutkan serangan terhadap mereka Senin (15/7). "Jika Anda tidak bahagia di sini, Anda bisa pergi. Ini tentang cinta terhadap Amerika," ujar Trump.

"Jelas, ada sejumlah orang yang membenci negara ini," lanjutnya. Ardern berujar, masyarakat Selandia Baru menerima perbedaan dalam pemerintahan.

"Kami mengambil pandangan bahwa parlemen merupakan tempat keterwakilan. Jadi harus terlihat dan terasa seperti Selandia Baru, dan mempunyai beragam kultur serta etnis," paparnya.

Karena itu, lanjut Ardern, para wakil rakyat tidak boleh dipertanyakan asal keturunan maupun hak mereka karena mereka semua layak berada di pemerintahan. Perdana Menteri Inggris Theresa May dan PM Kanada Justin Trudeau juga mengecam twit itu.

Sementara politisi dari Demokrat menyebut Trump rasis. Ardern tidak malu menyampaikan perbedaan pendapat dengan Trump. Dia pernah meminta kepada presiden ke-45 AS itu untuk mengirimkan "simpati dan cinta" ke komunitas Muslim.

Saat itu, terjadi peristiwa mengerikan di mana teroris kulit putih menyerang dan menembaki jemaah dua masjid di Christchurh Maret lalu ketika sedang Shalat Jumat, dan menewaskan 51 orang.

Selain itu sesaat setelah Ardern terpilih di akhir 2017, Trump bertemu dengannya di Vietnam dan bercanda bagaimana Ardern menimbulkan "masalah" di Negeri "Kiwi".

"Anda tahu setidaknya orang tidak protes ketika saya terpilih," sindir Ardern merujuk kepada gelombang demonstrasi yang mewarnai kemenangan Trump di Pilpres 2016.***kps/mpc/bs

  • 0 komentar
  • Baca 98 kali