cache/resized/89223fafb7193a09af541cb2610486b2.jpg
Jakarta(MedanPunya) Presiden Joko Widodo menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 17 Tahun 2020 ...
cache/resized/9e51edb2fb71b473d38ba9a7a712fc12.jpg
Washington(MedanPunya) Pemerintah Amerika Serikat tengah menyelidiki intensif apakah virus Corona ...
cache/resized/9a84fa7c035130d22fadbbf8666b577e.jpg
Medan(MedanPunya) Kapolda Sumatera Utara (Sumut) Irjen Martuani Sormin meminta semua pihak mematuhi ...

London(MedanPunya) Pesan terenkripsi sebenarnya mempunyai tujuan baik, yaitu melindungi privasi pengguna dari hacker iseng ataupun mata-mata pemerintah. Namun bisa juga digunakan oleh pihak tak bertanggung jawab, seperti merencanakan kejahatan tanpa terendus oleh pihak berwajib.

Mungkin itulah alasan Perdana Menteri Inggris David Cameron ingin melarang layanan pengiriman pesan terenkripsi. Hal itu diungkapkan Cameron saat mendiskusikan masalah keamanan terkait kejadian penembakan di kantor Charlie Hebdo.

"Apakah kita akan membolehkan jenis komunikasi yang tak bisa dibaca oleh orang lain? Jawabanku jelas, tidak!" tegas Cameron.

Cameron memang tidak menyebut layanan tertentu dalam diskusi tersebut. Namun kemungkinan yang ia maksud adalah aplikasi semacam WhatsApp, Snapchat, ataupun layanan lain yang mempunyai fitur enkripsi.

Ini bukanlah kali pertama pemerintah ataupun pihak berwajib dipusingkan oleh layanan pesan yang 'digembok'. Federal Bureau of Investigation (FBI) belum lama ini juga menyatakan tak menyukai pesan enkripsi yang dilakukan oleh Apple dan Google.

Menurut mereka, praktik semacam itu seperti menyerahkan segala sesuatunya kepada pengguna. Sesuatu yang bahkan membuat Apple dan Google sendiri tak mampu membacanya ketika diperlukan.

Kembali ke WhatsApp, layanan milik Facebook itu baru-baru ini telah mengeluarkan fitur enkripsi pesan end-to end di aplikasinya. Fitur ini diklaim mempunyai tingkat keamanan yang lebih tinggi dibanding dengan pesaingnya.

Bahkan, tingkat keamanannya bisa dikatakan setara dengan yang digunakan oleh perusahaan-perusahaan seperti Google, Microsoft, dan Apple.

Sebenarnya sudah ada beberapa aplikasi dengan fitur enkripsi end-to-end di pasaran, seperti Cryptocat, Silent Text, iMessage dan Telegram. Namun WhatApp adalah satu-satunya yang mempunyai jumlah pengguna di atas 600 juta orang.

Dengan enkripsi end-to-end, pihak WhatsApp tak lagi bisa membaca setiap pesan yang dikirim oleh penggunanya. Bahkan penegak hukum pun tak akan bisa meminta WhatsApp untuk mengurai enkripsi tersebut. Pesan-pesan tersebut hanya bisa dibaca oleh si penerima pesan.

Untuk mengaplikasikan fitur ini, sejak 8 bulan lalu WhatsApp menggandeng Open Whisper Systems, yang sebelumnya dikenal sebagai pengembang aplikasi Signal, Redphone, dan TextSecure.

Fitur enkripsi ini baru tersedia terbatas untuk WhatsApp di perangkat Android. Belum diketahui kapan fitur ini akan tersedia secara lebih luas di platform lain seperti iOS dan Windows Phone.***dtc/mpc/bs

  • 0 komentar
  • Baca 1114 kali