cache/resized/89223fafb7193a09af541cb2610486b2.jpg
Jakarta(MedanPunya) Presiden Joko Widodo menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 17 Tahun 2020 ...
cache/resized/9e51edb2fb71b473d38ba9a7a712fc12.jpg
Washington(MedanPunya) Pemerintah Amerika Serikat tengah menyelidiki intensif apakah virus Corona ...
cache/resized/9a84fa7c035130d22fadbbf8666b577e.jpg
Medan(MedanPunya) Kapolda Sumatera Utara (Sumut) Irjen Martuani Sormin meminta semua pihak mematuhi ...

Florida(MedanPunya) Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menegaskan dirinya memerintahkan pembunuhan Mayor Jenderal Qasem Soleimani untuk menghentikan perang, bukan untuk memulai perang baru. Diungkapkan Trump bahwa Soleimani sedang merencanakan serangan jahat terhadap diplomat dan tentara AS.

Trump dalam pernyataan yang disiarkan televisi dari Florida pada Jumat (3/1) waktu setempat, memberikan komentar terbaru soal serangan udara AS di Baghdad, Irak, yang menewaskan Soleimani yang menjabat Komandan Pasukan Quds pada Garda Revolusi Iran.

Total lima personel Garda Revolusi Iran dan lima anggota milisi Hashed al-Shaabi yang pro-Iran tewas dalam serangan yang dilancarkan oleh drone militer AS di luar kompleks Bandara Internasional Baghdad pada Jumat (3/1) pagi waktu setempat.

Serangan drone itu mengenai dua kendaraan yang ditumpangi Soleimani dan seorang wakil komandan Hashed, Abu Mahdi al-Muhandis. Sebagai Komandan Pasukan Quds, Soleimani bertugas memimpin dan mengawasi misi-misi Garda Revolusi Iran di luar negeri.

"Soleimani merencanakan serangan segera dan jahat terhadap para diplomat dan personel militer Amerika tapi kita menangkapnya saat beraksi dan mengakhirinya," ucap Trump kepada wartawan di resor Mar-a-Lago miliknya di Florida.

Trump menyebut Soleimani sebagai sosok kejam yang 'menjadikan kematian orang-orang tak bersalah sebagai keinginannya yang sakit'. "Kita merasa nyaman bahwa kekuasaan terornya telah berakhir," imbuhnya.

Dalam pernyataannya, Trump juga tampak berupaya mengurangi ketegangan dengan menekankan bahwa AS tidak berniat memulai perang dengan Iran.

"Kami mengambil tindakan semalam untuk menghentikan perang. Kami tidak mengambil tindakan untuk memulai perang," tegas Trump dalam pernyataannya.

Trump juga menegaskan bahwa AS tidak sedang mengupayakan perubahan rezim di Iran dengan menyerang Soleimani. "Kami tidak berniat mencari perubahan rezim," tegasnya.

Disebutkan Trump bahwa Soleimani harusnya sudah dilenyapkan oleh para pendahulunya. Disebutkan sejumlah sumber pejabat AS yang dikutip Associated Press, bahwa AS telah mengawasi Soleimani sejak lama, namun kekhawatiran soal dampak pembunuhan Soleimani menyelimuti pemerintahan AS pada era Presiden George W Bush dan Presiden Barack Obama.

Soleimani, sebut sumber pejabat AS itu, dinilai tetap berbahaya setelah tewas sama seperti saat dia masih hidup dan merencanakan serangan-serangan terhadap AS.

Sebagai musuh AS sejak lama, Iran diketahui memiliki banyak opsi untuk menyerang balik AS, baik secara militer maupun dengan cara lain. Puluhan ribu tentara AS di kawasan Teluk Persia, termasuk Irak dan Qatar, masuk dalam jangkauan rudal-rudal Iran. Tidak hanya itu, Iran juga punya kemampuan melancarkan serangan siber secara diam-diam atau melancarkan serangan militer proxy terhadap target-target AS di berbagai negara.

Pertimbangan terakhir untuk menyerang Soleimani berawal pada Oktober lalu, saat terjadi rentetan serangan roket di Irak yang oleh AS diyakini dilancarkan oleh milisi Irak yang didukung Iran. Serangan roket 27 Desember lalu di dekat Kirkuk menewaskan seorang kontraktor sipil AS dan melukai sejumlah tentara AS juga Irak. AS menyalahkan milisi pro-Iran bernama Kataib Hizbullah (KH) dan menyerang lima posisi KH pada 29 Desember.

Dua hari kemudian, milisi KH dan pendukungnya menyerbu Kedutaan Besar AS di Baghdad. Serangan itu, disebut Trump, menjadi bukti bahwa Soleimani pantas dilenyapkan.

"Agresi rezim Iran di kawasan, termasuk penggunaan petempur proxy untuk mendestabilisasi negara-negara tetangga, harus berakhir dan itu harus berakhir sekarang," ujar Trump dalam pernyataannya.

Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, telah bersumpah akan ada 'pembalasan dendam hebat' atas kematian Soleimani.

Dalam pernyataannya, Trump memperingatkan Iran soal pembalasan dendam. Ditegaskan Trump bahwa militer AS telah 'mengidentifikasi secara penuh' target-target Iran untuk menangkal serangan balasan. AS diketahui memiliki kekuatan ofensif dan defensif yang luas di kawasan Teluk yang mampu menjangkau Iran.***dtc/mpc/bs

  • 0 komentar
  • Baca 139 kali