cache/resized/568a86d8d8e289493dd92041cc167676.jpg
Doha(MedanPunya) FIFA secara resmi meluncurkan logo Piala Dunia 2022. Logo Piala Dunia yang akan ...
cache/resized/e7d56ad1eb9b6dc4f18b672b05a683f0.jpg
Bangkok(MedanPunya) Kerajaan Thailand dilaporkan merilis foto selir Raja Maha Vajiralongkorn dalam ...
cache/resized/f695b99f0277758dfe81e7b4284ae74e.jpg
Naples(MedanPunya) Dries Mertens tak menahan diri ketika ditanya soal keputusan Maurizio Sarri ...

Sanaa(MedanPunya) Ratusan warga Amerika Serikat dan keluarganya menyelamatkan diri dari konflik Yaman dengan menumpang kapal asing. Mereka bergabung dengan kumpulan orang-orang yang melakukan eksodus demi menghindari pertempuran sengit di Yaman.

Disampaikan seorang pejabat pemerintahan AS, ratusan warga AS itu dievakuasi dengan selamat oleh kapal-kapal asing dari India, Korea Selatan dan Rusia yang berlayar dari Yaman melewati Laut Merah menuju ke Djibouti, Tanduk Afrika.

Pekan lalu, otoritas AS mengakui pihaknya belum memiliki rencana mengevakuasi warganya yang terjebak konflik di Yaman. AS justru mendorong warganya untuk mengungsi ke tempat aman, tanpa memberikan bantuan. Hal ini jelas memicu kemarahan warga AS yang juga memiliki kewarganegaraan Yaman, yang merasa diabaikan pemerintah AS.

Juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Marie Harf menyebut tudingan bahwa pemerintah AS mengabaikan warganya di Yaman, sangatlah kasar. Harf menjelaskan, warga AS yang tiba di Djibouti akan mendapat makanan, minuman dan layanan medis serta mendapat penampungan yang layak dari pejabat diplomatik AS yang di negara tersebut.

Warga AS yang mengungsi akan menjalani pemeriksaan dan diproses untuk bisa pulang ke AS. Bahkan jumlah staf diplomatik AS di negara tersebut sengaja ditambah untuk membantu proses aplikasi keluarga warga AS secepat mungkin.

"Dinas Keamanan Dalam Negeri AS memberikan kewenangan khusus bagi tim konsuler di Djibouti untuk menerima dan mengabulkan permohonan visa imigran bagi pasangan, anak dan orangtua warga AS," terang Harf.

Secara terpisah, Duta Besar AS untuk Djibouti, Tom Kelly menyebutkan ada 178 warga negara AS dan 125 anggota keluarganya yang bukan warga AS, yang telah tiba di Djibouti dengan menumpang 12 kapal dan satu pesawat asing.

Otoritas AS menambahkan, muncul kekhawatiran bahwa setiap operasi penyelamatan warga AS di Yaman akan menjadi target serangan. Hingga kini, gempuran via udara masih terus dilakukan koalisi yang dipimpin Arab Saudi melawan pemberontak Houthi di Yaman.

"Kami sebenarnya berpikir jika aset militer AS dikerahkan di pelabuhan (Yaman), maka akan menjadi ancaman keamanan," ucap seorang pejabat senior Departemen Luar Negeri AS yang enggan disebut namanya, menanggapi kritikan mengapa AS tidak melakukan upaya evakuasi secara langsung seperti negara-negara lain.

"Kami terus berkomunikasi dengan negara-negara lain, berbicara dengan mereka soal fasilitas apa saja yang tersedia," imbuhnya.***dtc/mpc/bs

  • 0 komentar
  • Baca 931 kali