cache/resized/568a86d8d8e289493dd92041cc167676.jpg
Doha(MedanPunya) FIFA secara resmi meluncurkan logo Piala Dunia 2022. Logo Piala Dunia yang akan ...
cache/resized/e7d56ad1eb9b6dc4f18b672b05a683f0.jpg
Bangkok(MedanPunya) Kerajaan Thailand dilaporkan merilis foto selir Raja Maha Vajiralongkorn dalam ...
cache/resized/f695b99f0277758dfe81e7b4284ae74e.jpg
Naples(MedanPunya) Dries Mertens tak menahan diri ketika ditanya soal keputusan Maurizio Sarri ...

Berlin(MedanPunya) Mantan agen intelijen Irak era diktator Saddam Hussein disebut-sebut menjadi ahli strategi di belakang militan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Agen intelijen Irak ini diyakini merupakan sosok yang mengawali kiprah ISIS dalam menguasai sejumlah wilayah Suriah.

Purnawirawan Kolonel Samir Abd Muhammad al-Khlifawi yang juga dikenal dengan nama Haji Bakr, memang telah tewas di tangan pemberontak Suriah pada Januari 2014. Namun dia diyakini menjadi tokoh penting dalam kemunculan ISIS di Suriah.

"Secara diam-diam mengendalikan IS (nama lain ISIS) selama bertahun-tahun," demikian tulis majalah mingguan Jerman, Der Spiegel.

Majalah ternama Jerman ini menyatakan, pihaknya mendapat akses eksklusif terhadap sekitar 31 dokumen milik Bakr, termasuk tulisan tangan dan skema, usai melakukan negosiasi dengan kelompok pemberontak di Aleppo, Suriah. Kelompok pemberontak tersebut memegang dokumen-dokumen Bakr ini setelah ISIS kabur dari wilayah yang mereka kuasai.

"Sebuah cetak biru untuk pengambilalihan (wilayah)," sebut Der Spiegel mengenai 'harta karun' dokumen-dokumen Bakr.

Secara garis besar, lanjut Der Spiegel, dokumen-dokumen tersebut menunjukkan detail pendirian kekhalifan ISIS di wilayah Suriah bagian utara, lengkap dengan instruksi teliti untuk akivitas spionase, pembunuhan dan penculikan.

Menurut Der Spiegel, Bakr sakit dan menjadi pengangguran setelah keputusan Amerika Serikat membubarkan militer Irak pada tahun 2003 lalu. Antara tahun 2006 hingga 2008, Bakr sempat ditahan di penjara militer AS di Camp Bucca dan juga Abu Ghraib.

Pada tahun-tahun itulah pengaruh Bakr di kalangan pelaku jihad semakin meluas. Selanjutnya pada tahun 2010, Bakr bersama sekelompok mantan agen intelijen Irak lainnya menjadikan seorang ulama bernama Abu Bakr al-Baghdadi sebagai pemimpin ISIS.

Langkah menunjuk ulama menjadi pemimpin kelompok militan ini, dilaporkan untuk memberikan dimensi keagamaan dalam kelompok ini. Seorang jurnalis Irak yang dikutip Der Spiegel menyebut Bakr sebenarnya adalah seorang nasionalis, bukan Islamis.***dtc/mpc/bs

  • 0 komentar
  • Baca 837 kali