cache/resized/de63f0d2a22d502cee5872cc2ecad34c.jpg
MedanPunya - Menyusul ponsel orang terkaya dunia, Jeff Bezos, diretas melalui file video yang ...
cache/resized/e8817f3e820125f5141ada3a1cb021dd.jpg
Teheran(MedanPunya) Seorang anggota parlemen Iran menawarkan uang sebesar US$ 3 juta (Rp 40,3 ...
cache/resized/b08c12473eaedd350872fbba9d495169.jpg
Jakarta(MedanPunya) Menteri BUMN Erick Thohir mengungkapkan ada cucu usaha dari PT Garuda Indonesia ...

London(MedanPunya) Sebuah sekolah bahasa Inggris dan lembaga pendidikan harus mengubah namanya karena nama Isis yang mereka gunakan sekarang jadi terasosiasi dengan ekstremisme.

Seorang juru bicara lembaga itu mengatakan, makin hari makin sulit bagi mereka untuk menghadiri acara-acara internasional ketika menggunakan nama Isis.

Selain itu, para staf mereka juga mendapat "komentar negatif" karena mengenakan kaus bertuliskan Isis. Demikian kata juru bicara itu.

Kini, mereka mengubah nama menjadi Oxford International Education Group.

Jaringan sekolah bahasa dan penyelenggara pendidikan itu telah menggunakan nama Isis sejak tahun 1991.

Nama Isis diambil dari salah satu dari bagian Sungai Thames di Oxford yang disebut Isis.

Kini, jaringan itu menyadari bahwa mempertahankan nama Isis sudah tidak lagi praktis ketika begitu banyak konotasi negatif terkait ekstremisme dan kekerasan yang brutal.

Nama Isis kini selalu dikaitkan dengan kelompok militan ISIS atau yang mengklaim sebagai Negara Islam di Suriah dan Irak.

Seorang juru bicaranya mengatakan, mereka mengambil keputusan untuk tidak menunggu perubahan situasi politik, tetapi mengubah nama untuk menghindari kebingungan dan kesalahpahaman yang memalukan.

"Sudah bukan lagi pilihan bagi para staf kami untuk bekerja menggunakan kartu nama Isis, e-mail Isis, bendera Isis, dan sebagainya. Karenanya, setelah 24 tahun sebagai Isis, kami mengambil keputusan dengan cukup sedih untuk melakukan perubahan nama," kata jubir itu.

Jaringan itu belakangan mendapat kesulitan terkait persepsi internasional tentang nama Isis.

Selain jadi kesulitan mendapat siswa, khususnya dari Timur Tengah, dan kerumitan bekerja di luar negeri, mereka juga mendapat masalah dengan sistem internet.

Jika ada orang yang mencari tempat pelatihan lembaga bahasa Isis, misalnya, mesin pencari internet bisa memberikan hasil yang sama sekali lain.***kps/mpc/bs

  • 0 komentar
  • Baca 887 kali