cache/resized/568a86d8d8e289493dd92041cc167676.jpg
Doha(MedanPunya) FIFA secara resmi meluncurkan logo Piala Dunia 2022. Logo Piala Dunia yang akan ...
cache/resized/e7d56ad1eb9b6dc4f18b672b05a683f0.jpg
Bangkok(MedanPunya) Kerajaan Thailand dilaporkan merilis foto selir Raja Maha Vajiralongkorn dalam ...
cache/resized/f695b99f0277758dfe81e7b4284ae74e.jpg
Naples(MedanPunya) Dries Mertens tak menahan diri ketika ditanya soal keputusan Maurizio Sarri ...

Tel Aviv(MedanPunya) Sebuah kelompok veteran militer Israel merilis testimoni sekitar 60 tentara yang berperang di Gaza selama agresi militer Israel pada Juli-Agustus tahun lalu.

Dalam laporan yang dikeluarkan pada Senin (4/5), itu, terdapat beberapa petikan ‘mencengangkan’ dari para tentara.

Tercatat ada seorang tentara yang mengatakan, “Jika kau menembak seseorang di Gaza, itu keren.”

Terdapat pula tentara yang mengatakan bahwa dua orang wanita disebut teroris hanya karena mereka tertembak. “Jadi tentu saja mereka adalah teroris,” ujar tentara itu. Para wanita itu ternyata hanya warga sipil tak bersenjata.

Laporan setebal 240 halaman itu dipublikasikan oleh kelompok veteran militer Israel yang menamakan diri mereka Breaking the Silence. Isinya mengungkapkan pula beragam taktik yang didunakan oleh tentara Israel selama perang 50 hari yang telah menewaskan lebih dari 2.100 warga Palestina, 1.500 diantaranya adalah warga sipil. Sementara itu, lebih dari 60 warga Israel tewas, sebagian besar dari mereka adalah militer.

Merespon laporan itu, militer Israel merilis pernyataan pada Senin sore. Mereka mengatakan “berkomitmen untuk menginvestigasi klaim yang kredibel via media, LSM, dan komplain terkait aksi IDF (Israel Defense Force) selama operasi Protecive Edge.”

Namun IDF juga mengatakan bahwa “Breaking the Silence menolak untuk menyediakan bukti atas klaim-klaim ini.”

Avihai Stollar, direktur riset Breaking the Silence, mengatakan bahwa mereka melakukan wawancara untuk mengetahui mengapa sangat banyak bangunan infrastruktur yang rusak dan tingginya angka kematian warga sipil.

“Tujuannya bukan untuk pembantaian, tapi komandan mereka berbohong pada mereka dan juga kepada publik bahwa tidak ada warga sipil (yang tewas),” kata Stollar.

Dismaying laporan, Breaking the Silence juga merles video kesaksian dari para tentara.

"Aturan selama operasi Protective Edge tak jelas. Tak ada yang terorganisir,” kata seorang tentara. Ia juga menambahkan bahwa ia dan resimennya diberitahu untuk menembaki apa pun yang tampak mencurigakan, "baik itu rumah yang sangat tinggi, atau kepala yang mengintip dari jendela, (dan) tentu saja jika Anda melihat orang berjalan keluar dari satu rumah dan ke lain."

Selama konflik, IDF berulang kali menyatakan Hamas menggunakan warga sipil sebagai perisai, dan menyimpang senjata dan artileri di sekolah dan rumah sakit.

Menurut IDF, setelah perang musim panas berlalu, penyelidikan dilakukan, dan tentara dipersilakan menyuarakan keluhan mereka.

PBB melaporkan lebih dari 20 ribu rumah hancur dan ratusan ribu warga masih mengungsi.

Banyak bagian dari Gaza yang belum dibangun kembali karena blokade ekonomi Israel di Gaza sejak 2007.***cnn/mpc/bs

  • 0 komentar
  • Baca 889 kali