cache/resized/568a86d8d8e289493dd92041cc167676.jpg
Doha(MedanPunya) FIFA secara resmi meluncurkan logo Piala Dunia 2022. Logo Piala Dunia yang akan ...
cache/resized/e7d56ad1eb9b6dc4f18b672b05a683f0.jpg
Bangkok(MedanPunya) Kerajaan Thailand dilaporkan merilis foto selir Raja Maha Vajiralongkorn dalam ...
cache/resized/f695b99f0277758dfe81e7b4284ae74e.jpg
Naples(MedanPunya) Dries Mertens tak menahan diri ketika ditanya soal keputusan Maurizio Sarri ...

Washington(MedanPunya) Amerika Serikat akan mengirimkan 2 ribu roket anti-tank AT-4 ke Irak, sekitar pekan depan. Pengerahan ini dimaksudkan untuk membantu tentara Irak dalam memerangi serangan bom mobil yang sering dilakukan militan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS).

Juru bicara Pentagon, Kolonel Steve Warren menuturkan, pengerahan senjata ini akan membantu pertahanan Irak terhadap para pengebom bunuh diri yang mengendarai kendaraan penuh bahan peledak, yang digunakan ISIS dalam serangannya pekan lalu, saat merebut Ramadi dari tentara Irak.

"Ini tepat untuk menangkal serangan itu (bom mobil)," sebut Warren.

Keberhasilan ISIS dalam merebut wilayah Ramadi, ibukota Provinsi Anbar, secara tidak langsung menjadi kemunduran terbesar pemerintah Irak dalam setahun terakhir. Hal ini juga mengekspos keterbatasan tentara Irak dan serangan udara koalisi AS dalam melawan ISIS.

Secara terpisah, pejabat Departemen Luar Negeri AS yang enggan disebut namanya menyatakan, ISIS telah melakukan sekitar 30 serangan bom mobil untuk merebut kota Ramadi.

Lebih lanjut, Warren menuturkan, senjata anti-tank akan memberi kesempatan pasukan Irak untuk menghancurkan bom mobil yang mendekat dari jarak tertentu. Dengan bergantung pada persenjataan kecil, maka pasukan Irak harus merusak mesin mobil atau membunuh pengemudinya, yang menurut Warren, tergolong sulit dilakukan.

Dalam penjelasannya di Pentagon, Warren menegaskan bahwa serangan udara AS tidak terhambat oleh cuaca buruk ketika ISIS merebut kota Ramadi. Komentar Warren ini mengklarifikasi laporan bahwa ISIS sengaja memanfaatkan badai pasir untuk menyerang dan merebut Ramadi. Badai pasir itu disebut menghambat pesawat tempur AS untuk melancarkan serangan udara.

Warren juga menyebutkan, upaya melatih tentara Irak untuk berkomunikasi dengan lebih baik dalam meminta bantuan via udara, terus dilakukan AS. Pelatihan ini termasuk soal menggunakan panggilan radio dan mengidentifikasi posisi tentara Irak di lapangan.***dtc/mpc/bs

  • 0 komentar
  • Baca 828 kali