cache/resized/568a86d8d8e289493dd92041cc167676.jpg
Doha(MedanPunya) FIFA secara resmi meluncurkan logo Piala Dunia 2022. Logo Piala Dunia yang akan ...
cache/resized/e7d56ad1eb9b6dc4f18b672b05a683f0.jpg
Bangkok(MedanPunya) Kerajaan Thailand dilaporkan merilis foto selir Raja Maha Vajiralongkorn dalam ...
cache/resized/f695b99f0277758dfe81e7b4284ae74e.jpg
Naples(MedanPunya) Dries Mertens tak menahan diri ketika ditanya soal keputusan Maurizio Sarri ...

Seoul(MedanPunya) Keberadaan pulpen beracun dan pistol penerang di depan mata anda bisa membuat anda berpikir sedang mengunjungi tempat pengambilan film James Bond. Tetapi, senjata-senjata itu nyata dan merupakan perlengkapan mata-mata Korea Utara.

Seorang pria yang mengklaim tugasnya dulu adalah masuk ke Korea Selatan dalam misi bagi rezim Kim mengatakan, mata-mata dari negara paling tertutup di dunia itu masih ada hingga kini.

Kim Dong Shik, yang dipilih menjadi mata-mata sejak SMA, mengatakan bahwa dia belajar di universitas khusus selama empat tahun. Di sana dia belajar berbagai keahlian seperti bela diri, menyelam, menembak dan membuat bahan peledak.

Bertahun-tahun setelah dilatih penuh, dia diberitahu alasan pemilihannya.

"Saat saya diberitahu akan menjadi mata-mata, saya terkejut," kata Kim. "Mata-mata sering mengalami kejadian buruk sebelumnya. Banyak dari mereka yang dikirim ke Korea Selatan tewas, jadi saya berasumsi saya akan mati," katanya.

Kim mengatakan latihan fisik hanya bagian kecil; persiapan psikologis menjadi kunci. Kami diajari untuk siap mati bagi rezim Kim, dan jika tertangkap, kami tidak boleh tertangkap hidup-hidup.

Pada 1995, Kim ditembak oleh militer Korea Selatan ketika melakukan misi di Seoul sehingga tidak bisa bunuh diri. Dia mengklaim seluruh keluarganya di Korea Utara dieksekusi karena tidak berhasil menyelesaikan misinya.

Kim menceritakan misi pertamanya ke Korea Selatan adalah membawa pulang agen tingkat tinggi bernama Lee, yang sudah bertugas di negara itu beberapa saat. Misi kedua, mencoba merekrut pegiat anti pemerintah Korea Selatan yang bersimpati pada ke Korea Utara.

Dia mengatakan, berkomunikasi dengan kantor pusat dengan mempergunakan radio gelombang pendek. Satu program yang ditayangkan dari Pyongyang pada tengah malam berisi penyiar yang membacakan angka, yang menurutnya merupakan kode untuk misi berikut. Dia memperkirakan metode komunikasi yang sekarang diterapkan jauh lebih canggih.

Salah seorang mantan kelompok elit Korea Utara, Kang Myong-do, mengatakan mata-mata negara itu dikerahkan di berbagai negara di dunia termasuk Amerika Serikat.

Dia memperkirakan jumlah mata-mata di Amerika Serikat pernah mencapai ratusan. Salah satu tujuannya adalah mencoba merekrut warga Amerika keturunan Korea yang cenderung mendukung Korea Utara.

“Ada tiga taktik berbeda yang digunakan,” ujarnya. “Pertama, memberi visa gratis ke Korea Utara, kedua: memberi mereka ijin berbisnis dan mencari uang di sana, dan ketiga: memanfaatkan perempuan untuk membujuk mereka. Taktik ini digunakan secara luas sejak 1980-an.

Kang mengatakan pernah bekerja di Divisi Pengembangan Penyatuan pada 1984. Salah satu tugasnya adalah mengirimkan mata-mata ke Amerika Serikat, Korea Selatan dan Jepang. Dia mengatakan divisi tersebut masih ada sampai sekarang.

Kang Myong-do mengatakan, mata-mata dan agen intelijen mempunyai peran besar dalam menjaga rezim Kim Jong Un.

Hal ini didukung oleh Kim Dong-shik yang mengatakan, “Korea Utara memberi imbalan yang baik bagi mata-mata. Mereka mendapatkan perlakuan yang sama seperti yang diterima para jenderal, tingkat pendidikan mereka setara dengan pendidikan tinggi. Jadi bisa dikatakan Korea Utara menganggap mata-mata sangat pentin.”

"Korea Utara memperlakukan mata-mata dengan sangat baik, mata-mata diperlakukan sama seperti jenderal, pendidikan mereka sama-sama di level yang tinggi. Jadi, ini adil jika dikatakan Korea Utara menganggap mata-mata sangat penting." kata Kim.***cnn/mpc/bs

  • 0 komentar
  • Baca 792 kali