Cetak halaman ini

New York(MedanPunya.Com) Sementara permintaan coklat terus meningkat di seluruh dunia, para petani memproduksi lebih sedikit dari total konsumsi. Defisit coklat atau kakao, diperkirakan meningkat hingga satu juta metrik ton setahun, pada 2020.

Defisit pasokan biji kakao akan bertambah menjadi dua juta metrik ton setahun, pada 2030. Kekeringan disebut merupakan salah satu persoalan utama.

Terutama kondisi di Afrika Barat, yang merupakan wilayah penghasil biji kakao nomor satu dunia. Kemudian Pantai Gading dan Indonesia, yang merupakan negara penghasil biji kakao terbesar kedua dan ketiga dunia.

Kondisi kekeringan tidak tampak akan terselesaikan dalam waktu dekat. Afrika Barat saat ini memasuki periode musim kering, dan El Nino juga akan menyebabkan kekeringan berlanjut di Indonesia.

Terkait dengan kekhawatiran dalam pasokan kakao, perusahaan di Pantai Gading mengumumkan sebuah program pelatihan dan pengembangan komunitas, bagi 9.000 petani yang tersebar di enam wilayah Pantai Gading.

Hershey Co, dengan program yang mereka sebut Hershey Belajar Menanam itu, akan termasuk rencana merehabilitasi pertanian kakao yang telah berusia lebih dari 25 tahun, dengan tanaman baru dan lebih menghasilkan.

"Ekspansi signifikan ini, merupakan contoh bagaimana publik dan industri dapat bekerjasama," kata Wakil Presiden Hershey, Terry O`Day. "Kami membantu petani meningkatkan pendapatan mereka, dengan mengadopsi praktik agrikultural."***vv/mpc/bs

  • 0 komentar
  • Baca 1165 kali