cache/resized/89223fafb7193a09af541cb2610486b2.jpg
Jakarta(MedanPunya) Presiden Joko Widodo menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 17 Tahun 2020 ...
cache/resized/9e51edb2fb71b473d38ba9a7a712fc12.jpg
Washington(MedanPunya) Pemerintah Amerika Serikat tengah menyelidiki intensif apakah virus Corona ...
cache/resized/9a84fa7c035130d22fadbbf8666b577e.jpg
Medan(MedanPunya) Kapolda Sumatera Utara (Sumut) Irjen Martuani Sormin meminta semua pihak mematuhi ...

Jakarta(MedanPunya.Com) Bank Indonesia menghitung setiap penurunan harga minyak mentah sebesar US$ 1 akan mengurangi defisit neraca transaksi berjalan Indonesia sebesar US$ 170 juta. Indonesia sebagai negara pengimpor minyak dinilai diuntungkan dengan tren penurunan harga minyak global.

Hendar, Deputi Gubernur Bank Indonesia, mengungkapkan rata-rata setiap harinya Indonesia mengimpor sekitar 277 ribu barel minyak mentah guna memenuhi kebutuhan bahan bakar di dalam negeri.

"Jadi setiap penurunan harga minyak dunia akan berdampak positif pada neraca pembayaran kita. Kalau menurun sebesar US$ 1, maka hal tersebut bisa memperbaiki neraca berjalan kita sebesar US$ 170 juta" ujar Hendar, Kamis (4/12).

Selain itu, lanjut Hendar, faktor kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi juga mempengaruhi kondisi neraca transaksi berjalan Indonesia. Meskipun kebijakan pemerintah itu menimbulkan inflasi, tetapi untuk jangka panjang bisa memperkecil defisit neraca transaksi berjalan.

"Namun kalau untuk angka pasti berapa defisit neraca berjalan hingga akhir tahun saya belum tahu. Tapi semoga di bawah 3 persen" katanya.

Dari sisi ekspor, Hendar mengatakan bank sentral tengah berupaya menekan defisit neraca perdagangan dengan memperbaiki pengelolaan devisa hasil ekspor (DHE) di sektor energi. "Hal tersebut juga mendapat respon positif dari Menteri ESDM dan SKK Migas. Saya kira hanya sektor ini saja yang menjadi fokus pengelolaan DHE yang perlu dioptimalkan" tambahnya.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat realisasi harga minyak mentah Indonesia (ICP) selama periode Januari-November 2014 rata-rata sebesar US$ 99,87 per barel, jauh di bawah asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) 2014 sebesar US$ 105 per barel. ICP berbalik turun sejak Juli 2014 mengikuti tren harga minyak mentah dunia.

Berdasarkan kajian pemerintah dalam Nota Keuangan dan Undang-Undang APBNP 2014, setiap deviasi ICP sebesar US$ 1 lebih tinggi atau lebih rendah dari asumsi US$ 105 per barel, maka ada potensi penambahan atau pengurangan defisit sekitar Rp 3,4 triliun sampai dengan Rp 3,8 triliun. Estimasi tersebut dengan asumsi indikator makroekonomi lainnya tetap atau bersifat ceteris paribus.

Artinya dengan selisih realisasi lebih rendah sebesar US$ 5,13 per barel, maka defisit APBNP 2014 berpotensi berkurang sekitar Rp 17,4 triliun hingga Rp 19,5 triliun.

Sebagai informasi, posisi neraca perdagangan sektor migas hingga Oktober 2014 masih mengalami defisit sebesar US$ 10,79 miliar, menyusul realisasi ekspor Januari-Oktober sebesar Rp 25,8 miliar yang lebih rendah dari impor US$ 36,59 miliar.

Sementara untuk neraca non-migas defisitnya tercatat US$ 11 juta setelah memperhitungkan selisih ekspor US$ 122,1 miliar dengan impor US$ 113,1 miliar.***cnn/mpc/bs

  • 0 komentar
  • Baca 1107 kali