Cetak halaman ini

Jakarta(MedanPunya.Com) Pemerintah telah menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi sejak 18 November 2014. Dampak kebijakan ini adalah lonjakan inflasi, tetapi hanya sementara.

Bank Dunia memperkirakan inflasi 2015 berada di angka 7,5% sebagai dampak kenaikan harga BBM tahun ini. Namun, inflasi bisa lebih rendah jika ada upaya meredam gejolak harga berbagai kebutuhan pokok.

Di sisi lain, Bank Dunia mengapresiasi langkah pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang menaikkan harga BBM bersubsidi sebesar Rp 2.000/liter. Kebijakan ini membuat pemerintah memperoleh penghematan lebih dari Rp 100 triliun.

"Penghematan fiskal yang nilainya lebih dari Rp 100 triliun dari penyesuaian harga BBM memberikan ruang fiskal kepada pemerintah untuk menambah belanja publik bagi sektor-sektor prioritas," ungkap Ekonom Utama Bank Dunia untuk Indonesia Ndiame Diop, Senin (8/12).

Dia mengungkapkan, sektor prioritas salah satunya adalah pelayanan kesehatan. Indonesia, kata dia, menghabiskan hanya 1,2% dari Produk Domestik Bruto (PDB) untuk pelayanan kesehatan. Salah satu yang terendah dibandingkan dengan negara-negara lain di dunia.

Menurut Diop, pembelanjaan yang lebih baik termasuk untuk pelayanan kesehatan dan program-program perlindungan sosial, dapat mempercepat upaya pengentasan kemiskinan.

"Tanpa dukungan tambahan ini terhadap upaya pengentasan kemiskinan, tingkat kemiskinan di Indonesia yang kini 11,3% akan tetap berada di atas 8% pada 2018," kata Diop.

Meski begitu, Diop menyoroti bahwa penyerapan belanja modal atau capital expenditure (capex) pemerintah yang hanya 38%. "Ini jauh di bawah angka 2012 dan 2013 untuk periode yang sama," tegasnya.***dtc/mpc/bs

  • 0 komentar
  • Baca 1117 kali