cache/resized/89223fafb7193a09af541cb2610486b2.jpg
Jakarta(MedanPunya) Presiden Joko Widodo menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 17 Tahun 2020 ...
cache/resized/9e51edb2fb71b473d38ba9a7a712fc12.jpg
Washington(MedanPunya) Pemerintah Amerika Serikat tengah menyelidiki intensif apakah virus Corona ...
cache/resized/9a84fa7c035130d22fadbbf8666b577e.jpg
Medan(MedanPunya) Kapolda Sumatera Utara (Sumut) Irjen Martuani Sormin meminta semua pihak mematuhi ...

Jakarta(MedanPunya.Com) Menteri Koordinator bidang Perekonomian Sofyan Djalil mengatakan pemerintah akan mengupayakan segala cara untuk menstabilkan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Salah satunya adalah kembali mengandalkan pinjaman luar negeri dari lembaga multilateral sebagai solusi praktis untuk menutup kebutuhan pembiayaan di masa mendatang.

"Pemerintah akan menggunakan lebih banyak dana ODI (Overseas Development Institute) yang tidak lewat mekanisme pasar. Pinjaman lewat ADB, World Bank, Jepang dan dari pemerintah mana saja, sehingga bunga utang infrastruktur pemerintah akan lebih terkontrol," ujar Sofyan, Selasa (16/12).

ODI  adalah salah satu lembaga Think Tanks untuk pembangunan internasional yang berbasis di Inggris. Sejak tahun 1960 ODI telah bekerja dalam berbagai isu-isu kebijakan pembangunan di negara-negara berkembang.

Menurut Sofyan, pembayaran dan rekstrukturisasi utang valas swasta yang meningkat menjadi salah satu penyebab melemahnya rupiah. Kendati demikian, Sofyan menilai pinjaman luar negeri masih menjadi opsi yang paling efisien bagi pemerintah untuk mengontrol utang negara.

"Intinya pemerintah akan melakukan segala upaya untuk menjaga stabilitas rupiah," katanya.

Sebelumnya, Menteri BUMN Rini Soemarno meminta perusahaan pelat merah untuk mengurangi pembiayaan melalui pinjaman maupun obligasi valas. Selain itu, Rini juga menginstruksikan BUMN untuk melakukan aksi lindung nilai (hedging) guna mengantisi dampak pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Pada penutupan perdagangan kemarin, Senin (15/12), rupiah melemah 1,98 persen menjadi Rp 12.714 per dolar AS, yang merupakan level terendah sejak 1998.
 
Sofyan Djalil menilai pelemahan kurs merupakan tren global yang tidak hanya menekan rupiah, tetapi juga mata uang banyak negara. Fenomena ini terjadi investor mengantisipasi rencana Bank Sentral AS (The Fed) mempercepat kenaikan suku bunga sehingga terjadi pembalikan dolar AS ke negara asalnya.

"Sampai pagi ini depresiasi rupiah 4 persen . Kita bukanlah yang terburuk," ujar Sofyan.

Intinya, Sofyan Djalil menegaskan pelemahan rupiah dipicu oleh faktor eksternal mengingat kondisi ekonomi dan politik di dalam negeri cukup kondusif dan stabil. Dia mengklaim publik dan dunia internasional mengapresiasi kebijakan pemerintahan Joko Widodo dan Kabinet Kerja di berbagai sektor, terutama dalam memperbaiki iklim investasi.

"Kabinet Kerja baru dua bulan, tapi anda lihat dampaknya. Pemerintah begitu komitmen," ujarnya.***cnn/mpc/bs

  • 0 komentar
  • Baca 1057 kali