cache/resized/89223fafb7193a09af541cb2610486b2.jpg
Jakarta(MedanPunya) Presiden Joko Widodo menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 17 Tahun 2020 ...
cache/resized/9e51edb2fb71b473d38ba9a7a712fc12.jpg
Washington(MedanPunya) Pemerintah Amerika Serikat tengah menyelidiki intensif apakah virus Corona ...
cache/resized/9a84fa7c035130d22fadbbf8666b577e.jpg
Medan(MedanPunya) Kapolda Sumatera Utara (Sumut) Irjen Martuani Sormin meminta semua pihak mematuhi ...

Washington(MedanPunya.Com) Perekonomian Amerika Serikat (AS) terus membaik, dan mampu mencetak pertumbuhan ekonomi 5% pada kuartal III-2014. Naik dibandingkan pertumbuhan ekonomi kuartal sebelumnya, yaitu 4,6%.

Dalam 2 kuartal terakhir, ekonomi Negeri Paman Sam mampu mencetak pertumbuhan yang cukup tinggi. Ini merupakan catatan terbaik sejak 2003.

"Mesin ekonomi di AS bergerak cepat. Berbanding terbalik dengan dunia pada umumnya, yang masih melambat," tutur Ryan Sweet, ekonom senior Moody's Analytics.

Merespons data ini, investor di Wall Street pun bergairah. Indeks Dow Jones Industrial Average mencetak rekor dengan menembus level 18.000 poin.

Sebelumnya, pemerintah AS melaporkan pertumbuhan ekonomi kuartal III-2014 sebesar 3,9%. Namun direvisi menjadi 5%, karena ada data-data terbaru.

Misalnya konsumsi masyarakat yang tumbuh 3,2% pada kuartal III, merevisi data sebelumnya yang tumbuh 2,2%. Kemudian pertumbuhan investasi naik 1,8 poin persentase menjadi 8,9%

Departemen Perdagangan AS memperkirakan pertumbuhan ekonomi kuartal IV-2014 masih akan cukup kencang. Ini terlihat dari konsumsi rumah tangga, yang menyumbang lebih dari 2/3 ekonomi AS, naik 0,6%. pada November. Lebih baik dibandingkan bulan sebelumnya yaitu 0,3%.

Pembukaan lapangan kerja yang terus meningkat dan penurunan harga minyak telah mendorong konsumsi masyarakat. Konsumsi masyarakat AS yang tetap tinggi bisa mengompensasi perlambatan yang dialami Tiongkok atau Jepang.

Namun, pemulihan ekonomi AS membuat bank sentral The Federal Reserves/The Fed kemungkinan akan menaikkan suku bunga pada pertengahan 2015. Ketika kebijakan ini dilakukan, investor akan semakin memburu aset-aset di AS dan meninggalkan negara-negara berkembang.***dtc/mpc/bs

  • 0 komentar
  • Baca 1087 kali