cache/resized/9a84fa7c035130d22fadbbf8666b577e.jpg
Medan(MedanPunya) Kapolda Sumatera Utara (Sumut) Irjen Martuani Sormin meminta semua pihak mematuhi ...
cache/resized/2b2c034cf620b2a0f357c14287c0a073.jpg
Washington(MedanPunya) Otoritas Amerika Serikat (AS) resmi mendakwa Presiden Venezuela, Nicolas ...
cache/resized/de63f0d2a22d502cee5872cc2ecad34c.jpg
MedanPunya - Menyusul ponsel orang terkaya dunia, Jeff Bezos, diretas melalui file video yang ...

Jakarta(MedanPunya.Com) Menko Perekonomian Sofyan Djalil mengatakan pemerintah tengah mematangkan kebijakan baru terkait subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM). Dia mengungkapkan, mulai 1 Januari 2015 masyarakat akan membeli BBM dengan harga yang baru.

Hal itu diungkapkan Sofyan, Senin (29/12). Namun, Sofyan belum bisa menyebutkan lebih jauh kebijakan yang tengah dimatangkan pemerintah.

"Saya nggak bisa, besok kita baru akan rapat lagi melihat harga keekonomian hari ini. Intinya, semoga kebijakan ini adalah yang permanen. Nanti akan diputuskan dan diumumkan sebelum Tahun Baru," tuturnya.

Namun, Sofyan menggarisbawahi bahwa harga BBM bersubsidi akan berubah. Sejak 18 November lalu, pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi sebesar Rp 2.000/liter. Harga Premium menjadi Rp 8.500/liter, dan Solar Rp 7.500/liter.

"Pada saat Tahun Baru, masyarakat akan membeli BBM dengan harga baru. Per 1 Januari 2015," ungkapnya.

Sofyan sendiri masih enggan mengatakan opsi yang sedang digodok pemerintah. Dia hanya menyebutkan kebijakan ini diharapkan tidak akan membebani APBN dan tidak lagi membuat pemerintah terpaksa mengubah APBN di tengah jalan karena subsidi BBM membengkak.

"Nanti lihat saja dulu, kita akan meng-exercise semua indikator. Policy ini diharapkan tidak akan menyandera APBN kita di masa yang akan datang sehingga tak perlu lagi ada APBN-P," tuturnya.

Dengan begitu, lanjut Sofyan, APBN akan lebih stabil dan kredibel. "Pembangunan yang dilakukan juga lebih terjamin," ujarnya.

Sebagai informasi, Menteri ESDM Sudirman Said menyebutkan bahwa pemerintah tengah mengkaji beberapa kebijakan subsidi BBM. Ada 2 hal yang mengemuka yaitu penghapusan subsidi untuk Premium dan subsidi tetap (fixed subsidy) per liter untuk BBM diesel atau Solar.

Soal harga, Sudirman mengakui harga jual Premium yang Rp 8.500/liter lebih tinggi dibandingkan harga pasarnya. Saat ini pemerintah memang mendapat untung, meski secara keseluruhan tahun masih nombok karena subsidi yang diberikan lebih besar.

"Kalau dilepas dengan harga keekonomian, harga Premium akan jadi lebih rendah dari yang ditetapkan pemerintah November lalu Rp 8.500/liter. Mungkin saat ini pemerintah untung sedikit karena harga keekonomian Premium di bawah harga subsidi. Tapi secara net setahun pemerintah masih nombok karena harus bayar subsidi BBM," jelas Sudirman.***dtc/mpc/bs

  • 0 komentar
  • Baca 967 kali