cache/resized/9a84fa7c035130d22fadbbf8666b577e.jpg
Medan(MedanPunya) Kapolda Sumatera Utara (Sumut) Irjen Martuani Sormin meminta semua pihak mematuhi ...
cache/resized/2b2c034cf620b2a0f357c14287c0a073.jpg
Washington(MedanPunya) Otoritas Amerika Serikat (AS) resmi mendakwa Presiden Venezuela, Nicolas ...
cache/resized/de63f0d2a22d502cee5872cc2ecad34c.jpg
MedanPunya - Menyusul ponsel orang terkaya dunia, Jeff Bezos, diretas melalui file video yang ...

Jakarta(MedanPunya.Com) Presiden Joko Widodo (Jokowi) menargetkan Indonesia bisa swasembada beras hingga 3 tahun. Saat ini pertumbuhan permintaan beras makin pesat sejalan tumbuhnya ekonomi di daerah.

Untuk mencapai swasembada, pertumbuhan produksi beras‎ setidaknya harus mencapai 4% per tahun. Ketua Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (Perhepi) Bayu Krisnamurthi mengatakan, dalam 20 tahun terakhir pertumbuhan produksi beras hanya mencapai 2%, sedangkan pertumbuhan permintaannya lebih tinggi.

‎"Target Pak Jokowi tadi bisa dicapai kalau pertumbuhan produksi per tahun beras 4%," kata Bayu, Senin (29/12).

Bayu mengatakan, produksi harus terus ditingkatkan karena setiap tahun pun permintaan bertambah. Pertumbuhan ekonomi di daerah-daerah memicu permintaan beras yang terus meningkat.

Ia mencontohkan di Kabupaten Banyuwangi, Jember, Cilacap yang ekonomi tumbuh pesat, telah mendorong permintaan beras pun naik pesat.

"Jangan sepelekan permintaan. Banyuwangi hebat, artinya tumbuh restoran, makin sejahtera, hotel, semua minta makan. Restoran tak mau lagi dengan beras yang buruk, ada permintaan di Banyuwangi untuk produk pangan, Jember, Cilacap, kota-kota sekunder ini banyak yang berkembang, mereka bukan sentra produksi," tuturnya.

Produksi padi di 2014 mencapai 70 juta ton gabah kering giling (GKG) yang jika dikonversikan ke dalam bentuk beras kira-kira sekitar 39 juta ton. Sedangkan kebutuhan saat ini sudah mencapai 40 juta ton lebih.

"Pertumbuhan konsumsi juga sekitar 4%-an lah," tutur Bayu.

Bayu menambahkan, untuk mencapai ketahanan pangan tidak hanya harus berfokus pada produksi semata, melainkan aspek lain seperti distribusi yang meliputi sistem pengiriman dan perdagangan. Kemudian yang terpenting menurutnya adalah konsumsi.

"Kalau kebijakan yang komprohensif bisa menjangkau itu semua, maka itu bisa tercapai," tutupnya.***dtc/mpc/bs

  • 0 komentar
  • Baca 889 kali