cache/resized/9a84fa7c035130d22fadbbf8666b577e.jpg
Medan(MedanPunya) Kapolda Sumatera Utara (Sumut) Irjen Martuani Sormin meminta semua pihak mematuhi ...
cache/resized/2b2c034cf620b2a0f357c14287c0a073.jpg
Washington(MedanPunya) Otoritas Amerika Serikat (AS) resmi mendakwa Presiden Venezuela, Nicolas ...
cache/resized/de63f0d2a22d502cee5872cc2ecad34c.jpg
MedanPunya - Menyusul ponsel orang terkaya dunia, Jeff Bezos, diretas melalui file video yang ...

Jakarta(MedanPunya.Com) Harga minyak dunia masih dalam tren melemah. Semalam, harga minyak dunia sempat menyentuh titik terendahnya dalam lima tahun terakhir.

Harga minyak mentah jenis Brent berada di level US$ 57,46 per barel, terendah sejak 26 Mei 2009 ketika menyentuh US$ 55,91 per barel.

Minyak Brent ini sempat naik ke level US$ 60 per barel gara-gara kabar dari Libya. Adanya kekhawatiran instabilitas politik di Libya diprediksi bisa mengurangi pasokan minyak mentah sehingga mendorong harganya naik.

Tapi ternyata harga minyak dunia malah terus turun. Analis Komoditas dari Bank of America, Francisco Blanch, menilai Libya bukanlah produsen minyak yang berpengaruh meski tergabung dalam OPEC.

"Saya rasa Libya bukanlah pemasok minyak yang penting. Tapi jika mereka benar-benar berhenti memproduksi maka akan ada imbasnya ke harga minyak tahun depan," ujarnya.

Selama ini harga minyak dunia terbebani oleh niatan negara-negara OPEC yang bersikeras tidak akan mengurangi produksi minyaknya.

"Pasar terus merespons akan jumlah pasokan yang terlalu banyak, apalagi Arab Saudi menolak kurangi produksi minyaknya," kata Andrew Lipow, Presiden Direktur Lipow Oil Associates.

Harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Februari juga jatuh ke US$ 53,12 per barel, menuju ke titik terendahnya sejak Mei 2009.

"Minyak jenis WTI masih akan bertahan di kisaran US$ 50 dalam beberapa pekan ke depan. Ini menjadi bulan Desember pertama di mana stok minyak melimpah, padahal biasanya di akhir tahun sudah habis dipakai," ujar Lipow.

Konflik di Libya sudah menutup dua pelabuhan terbesar setempat, yaitu Es Sider and Ras Lanuf. Sebuah roket juga menghancurkan 800.000 barel minyak Libya atau setara dua hari produksi.***dtc/mpc/bs

  • 0 komentar
  • Baca 1096 kali