cache/resized/89223fafb7193a09af541cb2610486b2.jpg
Jakarta(MedanPunya) Presiden Joko Widodo menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 17 Tahun 2020 ...
cache/resized/9e51edb2fb71b473d38ba9a7a712fc12.jpg
Washington(MedanPunya) Pemerintah Amerika Serikat tengah menyelidiki intensif apakah virus Corona ...
cache/resized/9a84fa7c035130d22fadbbf8666b577e.jpg
Medan(MedanPunya) Kapolda Sumatera Utara (Sumut) Irjen Martuani Sormin meminta semua pihak mematuhi ...

Jakarta(MedanPunya.Com) Analis energi memperkirakan harga minyak dapat terus turun hingga mencapai US$ 30 per barel jika indikator ekonomi global masih menunjukkan pelemahan di 2015. Indikasi ini semakin menguat setelah 2014 ditutup dengan harga minyak dunia yang menyentuh angka US$ 53.

"Jika kondisi ekonomi global masih akan tetap melemah, maka harga minyak dunia bisa saja kembali ke angka US$ 30 per barel seperti saat krisis finansial dunia menyerang di akhir 2008 dan awal 2009m, jelas Analis Senior Telvent DTN Darin Newson.

Melimpahnya suplai minyak Amerika Utara yang diiringi menurunnya permintaan minyak dunia akibat pelemahan ekonomi global diperkirakan masih akan berlanjut tahun ini dan berpotensi semakin melemahkan harga minyak dunia. Terlebih dengan adanya kebijakan OPEC yang menolak untuk memangkas volume produksi minyaknya agar pangsa pasarnya tak kalah saing dengan minyak mentah Amerika Utara.

"Karena kenyataannya sekarang kita memerlukan minyak lebih sedikit dari apa yang dibutuhkan. Terlebih bagi Tiongkok, kini struktur ekonomi mereka berubah maka terdapat indikasi juga bahwa mereka akan memerlukan energi lebih sedikit dibandingkan sebelumnya,” tambah Analis Energi Nasdaq Advisory Services Tamar Essner.

Selain itu, Essner menambahkan tak hanya Tiongkok saja yang sedang mengalami perubahan struktur ekonomi. Dia menilai bahwa Amerika Serikat sedang mengalami hal yang sama sehingga kini terjadi efisiensi dalam penggunaan energi.

"Jika melihat ke luar, kita jarang sekali melihat kendaraan-kendaraan yang boros bahan bakar lagi. Titik balik perubahan perilaku konsumen ini terjadi ketika harga minyak sempat menyentuh US$ 140 per barel beberapa waktu lalu,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Analis Energi Oil Price Information Service Tom Kloza mengatakan bahwa minyak kini dipandang sebagai aset bagi investor. Sehingga apabila harganya terus turun, maka investor akan panik dan segera meninggalkan investasinya di sektor tersebut sehingga harganya bisa terus turun.

"Jika kepanikan melanda para investor maka bukan tidak mungkin harga minyak bisa menjadi US$ 35 bahkan bisa mencapai US$ 25. Seluruhnya bisa terjadi di tahun 2015 ini,” jelas Kloza.***cnn/mpc/bs

  • 0 komentar
  • Baca 1032 kali