cache/resized/f695b99f0277758dfe81e7b4284ae74e.jpg
Naples(MedanPunya) Dries Mertens tak menahan diri ketika ditanya soal keputusan Maurizio Sarri ...
cache/resized/f95acf087ea3c8aaa4510ffa1381d291.jpg
Pyongyang(MedanPunya) Pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong Un dikabarkan meminta uang kepada ...
cache/resized/a169e5794c5351a617f5fa2480cc01f3.jpg
Beijing(MedanPunya) Citra satelit terbaru menunjukkan aktivitas China yang tengah membuat kapal ...

Jakarta(MedanPunya) Berdasarkan perhitungan formula harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP), rata-rata ICP bulan Juli 2019 mencapai US$ 61,32 per barel, naik tipis yakni sebesar US$ 0,32 per barel dari US$ 61,00 per barel pada bulan Juni 2019.

Peningkatan ini lantaran produksi minyak mentah OPEC pada bulan Juni 2019 turun sebesar 68.000 barel per hari menjadi sebesar 29,8 juta barel dibandingkan bulan sebelumnya.

Namun, faktor kekhawatiran pelaku pasar terhadap semakin berkurangnya pasokan minyak mentah global akibat kesepakatan negara-negara OPEC dan beberapa negara Non OPEC untuk tetap melakukan pengurangan produksi sampai dengan akhir Juni 2019 juga masih membayangi peningkatan harga minyak mentah Juli 2019.

Selain itu, peningkatan ketegangan geopolitik di Timur Tengah juga dinilai menjadi salah satu penyebab kenaikan ICP Juli 2019. Beberapa isu yang muncul diantaranya adalah peningkatan pengayaan uranium Iran yang dianggap melanggar perjanjian nuklir di tahun 2015, penangkapan kapal tanker Iran di selat Gibraltar oleh Inggris dan 2 kapal tanker minyak Inggris di Selat Hormuz oleh Iran, serta pernyataan Presiden AS, Donald Trump, bahwa US Navy telah menembak drone milik Iran di Selat Hormuz.

Untuk kawasan Asia Pasifik, peningkatan harga minyak mentah juga dipengaruhi oleh penambahan kuota impor dari Pemerintah China kepada beberapa kilang di China dengan total 56,85 juta mt sehingga meningkatkan permintaan minyak mentah di China, serta peningkatan crude oil throughput di China sebesar 1,2% menjadi 6,6 juta barel per hari dan di Taiwan sebesar 1% menjadi 970 ribu barel per hari dibandingkan dengan awal bulan Juli 2019.

Menurunnya stok minyak mentah AS juga menjadi penyebab adanya peningkatan harga. Pasalnya, beberapa waktu lalu fasilitas produksi minyak mentah di Teluk Mexico mengalami kerusakan yang disebabkan oleh angin topan Barry.

"Faktor lainnya adalah Energy Information Administration (EIA) melaporkan stok crude oil AS pada bulan Juli 2019 turun sebesar 32 juta barel menjadi sebesar 436,5 juta barel dibandingkan stok di bulan Juni 2019, menurunnya stok minyak mentah Amerika Serikat akibat topan Barry yang menyerang beberapa fasilitas produksi di Teluk Mexico, serta meningkatnya permintaan minyak mentah AS oleh negara-negara importir minyak menyusul penurunan permintaan untuk Middle East Grades akibat ketegangan geopolitik di wilayah tersebut," demikian dikutip dari keterangan Kementerian ESDM.

Selengkapnya perkembangan harga rata-rata minyak mentah utama di pasar internasional pada bulan Juli 2019 dibandingkan Juni 2019:

    WTI (Nymex) naik sebesar US$ 0,33 per barel dari US$ 54,71 per barel menjadi US$ 55,04 per barel.
    Basket OPEC naik sebesar US$ 1,75 per barel dari US$ 62,92 per barel menjadi US$ 64,67 per barel.
    Brent (ICE) naik sebesar US$ 1,17 per barel dari US$ 63,04 per barel menjadi US$ 64,21 per barel.
    ICP SLC naik sebesar dari US$ 61,84 per barel menjadi US$ 61,98 per barel.
    Kecuali untuk Dated Brent mengalami penurunan sebesar US$ 0,06 per barel dari US$ 64,10 per barel menjadi US$ 64,04 per barel.

***dtc/mpc/bs

  • 0 komentar
  • Baca 20 kali