cache/resized/89223fafb7193a09af541cb2610486b2.jpg
Jakarta(MedanPunya) Presiden Joko Widodo menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 17 Tahun 2020 ...
cache/resized/9e51edb2fb71b473d38ba9a7a712fc12.jpg
Washington(MedanPunya) Pemerintah Amerika Serikat tengah menyelidiki intensif apakah virus Corona ...
cache/resized/9a84fa7c035130d22fadbbf8666b577e.jpg
Medan(MedanPunya) Kapolda Sumatera Utara (Sumut) Irjen Martuani Sormin meminta semua pihak mematuhi ...

Jakarta(MedanPunya) Tahun ini, untuk kali pertama pemerintah mendapatkan untung dalam penjualan Bahan Bakar Minyak (BBM). Pasalnya harga keekonomian BBM saat ini di bawah harga yang ditetapkan.

Pada 1 Februari, pemerintah menetapkan harga untuk bensin Premium Rp 6.600/liter untuk wilayah di luar Jawa, Madura, dan Bali. Kemudian Solar dibanderol Rp 6.400/liter.

Namun berdasarkan rapat di Komisi VII DPR beberapa waktu lalu, dikaji saat ini harga keekonomian Solar berada di posisi Rp 6.200/liter. Sehingga bila dihitung secara kasar, pemerintah untuk saat ini untung Rp 200/liter dari penjualan Solar.

"Memang ini untuk kali pertama pemerintah untung jual BBM. Karena sebelumnya BBM disubsidi," kata Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM IGN Wiratmadja, Selasa (10/1).

Wiratmadja mengatakan, saat ini pemerintah sedang menyiapkan mekanisme keuntungan penjualan BBM tersebut untuk ditabung. Hasilnya akan dipakai untuk membangun infrastruktur energi.

"Keuntungannya akan digunakan untuk membangun infrastruktur. Memperkuat ketahanan energi nasional," sebutnya.

Sebelumnya, Direktur Pembinaan Hilir Migas Kementerian ESDM M. Riswi mengatakan, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) akan mengaudit badan usaha yang menyalurkan BBM subsidi termasuk BBM penugasan, untuk mengetahui berapa besar keuntungan penjualan BBM.

"Nanti akan diaudit, jadi penyaluran BBM termasuk BBM subsidi oleh badan usaha atau Pertamina diaudit BPK. Akan terlihat berapa total keuntungan penjualan BBM, baik per bulan atau total dalam setahun," papar Riswi.

Perlu diketahui juga, saat ini ketahanan energi Indonesia masih rentan. Pasalnya, Indonesia tidak punya sama sekali cadangan BBM, sementara dengan negara lain memiliki cadangan BBM cukup 3-6 bulan lamanya.

Berdasarkan data Pertamina, 60-70% kebutuhan BBM di Indonesia per harinya dipasok dari impor. Melihat kondisi tersebut, pemerintah ingin memperkuat ketahanan energi nasional.***dtc/mpc/bs

  • 0 komentar
  • Baca 1254 kali