Cetak halaman ini

Medan(MedanPunya) Mendapat kabar bahwasannya ratusan rumah di bantaran rel Jl Mandala By Pass, Lingkungan VIII, Bantan Timur, Medan Denai hendak dieksekusi, sejumlah anggota DPRD Medan mendatangi lokasi penggusuran. Mereka yang hadir diantaranya Hasyim, Boydo Panjaitan, dan Paul M Simanjuntak.

Ketiga kader PDI-Perjuangan yang duduk di Komisi C DPRD Medan itu langsung menemui warga. Selanjutnya, mereka pun terlibat cekcok dengan dua anggota TNI yang merupakan petugas keamanan PT Kereta Api Indonesia.

"Maaf bapak-bapak TNI, kami datang ke sini memohon agar bapak-bapak membatalkan penggusuran. Sesuai kesepakatan kemarin, penggusuran baru bisa dilakukan setelah kami, warga dan PT KAI melakukan rapat di DPRD," ungkap Boydo, Kamis (21/1).

Mendengar hal itu, dua anggota TNI masing-masing Letkol S Nadeak dan Kapten Sukardi menyebut bahwa mereka hanya melakukan pengamanan. Soal eksekusi, itu merupakan keputusan PT KAI.

"Begini, Pak. Kami ke sini bukan untuk menggusur. Kami hanya membantu saja," kata Letkol Nadeak.

"Kalau mau membantu, kenapa kok ada eskavator? Ada apa ini, Pak? Kami meminta agar penggusuran ditunda," ucap Boydo dengan nada meninggi.

Karena warga ramai di lokasi, warga pun menyoraki dua anggota TNI tersebut. Warga menyebut bahwa keberadaan TNI mengintimidasi mereka.

"Mana pula kalian mau membantu kami! Untuk apa ada TNI di sini? Mana orang kereta apinya? Jangan mereka sembunyi memanggil tentara," teriak sejumlah warga.

Karena kesal mendengar teriakan-teriakan, anggota DPRD Medan itu kembali terlibat cekcok dengan TNI. Mereka meminta  TNI untuk tidak menggusur rumah warga.

"Sudah kami jelaskan, Pak. Orang bapak-bapak janganlah menggusur hari ini. Penggusuran nanti bisa dilakukan setelah rapat bersama," ungkap Boydo sembari menunjuk-nunjuk anggota TNI tersebut.***trb/mpc/bs

  • 0 komentar
  • Baca 10142 kali