cache/resized/568a86d8d8e289493dd92041cc167676.jpg
Doha(MedanPunya) FIFA secara resmi meluncurkan logo Piala Dunia 2022. Logo Piala Dunia yang akan ...
cache/resized/e7d56ad1eb9b6dc4f18b672b05a683f0.jpg
Bangkok(MedanPunya) Kerajaan Thailand dilaporkan merilis foto selir Raja Maha Vajiralongkorn dalam ...
cache/resized/f695b99f0277758dfe81e7b4284ae74e.jpg
Naples(MedanPunya) Dries Mertens tak menahan diri ketika ditanya soal keputusan Maurizio Sarri ...

MedanPunya - Penetrasi internet di Indonesia kerap diklaim bertumbuh pesat. Anggapan serupa juga tertempel pada Thailand. Pasalnya, Kedua negara tersebut tiap tahun menunjukkan angka progresif jika dilihat dari jumlah pengguna smartphone dan layanan internet.

Tapi, data menunjukkan fakta mengejutkan. Kajian kolaboratif dari Internet Society dan firma konsultan TRPC membeberkan bahwa penetrasi internet di kedua negara masih jauh tertinggal dibanding negara-negara Asia Tenggara lainnya.

"Kedua negara (Indonesia dan Thailand) berada pada kelompok negara dengan penetrasi internet rendah. Ini jauh dari ekspektasi awal kami," kata perwakilan Internet Society dan TRPC.

Dalam pengkajian ini, dibuat 3 tipologi penetrasi internet untuk negara-negara di regional Asia Tenggara. Kelompok pertama berisi negara-negara yang populasi pengguna internetnya lebih dari 60 persen. Mereka adalah Singapura (73 persen), Malaysia (67 persen), dan Brunei (65 persen).

Menyusul kelompok kedua, yakni yang anggotanya adalah negara-negara dengan populasi pengguna internet antara 25 hingga 50 persen. Di antaranya adalah Vietnam (44 persen), Filipina (37 persen), dan Thailand (29 persen).

Sedangkan kelompok ketiga atau kelompok "terbelakang" adalah negara-negara yang populasi pengguna internetnya di bawah 25 persen. Mereka adalah Indonesia (16 persen), Laos (13 persen), Kamboja (6 persen), dan Myanmar (1 persen).

Direktur Internet Society untuk Asia Pasifik Rajnesh Singh mengatakan, infrastruktur dan biaya akses internet tiap negara sangat menentukan peringkat penetrasi internet.

Dalam hal ini, Indonesia dinilai sebagai negara yang pertumbuhan ekonominya terus menanjak. Selain itu, jumlah kelas menengahnya juga dilaporkan semakin masif. Namun, ada ketimpangan yang signifikan antar kelas sosial di Indonesia.

Kasarnya, jarak antara masyarakat kelas atas dan kelas bawah di Indonesia terpaut jauh. Sehingga, akses internet selama ini bisa dikatakan hanya dinikmati masyarakat kelas menengah ke atas di kota-kota besar. Hal yang sama disinyalir terjadi di Thailand.

Walau begitu, Internet Society meramalkan penetrasi internet di kedua negara bakal melambung tinggi di tahun-tahun ke depan. Ini ditandai dengan gencarnya ekspansi vendor smartphone yang menelurkan perangkat murah di dua negara berkembang tersebut.

Hal ini bisa membantu masyarakat kelas bawah untuk turut memiliki smartphone. Dengan begitu, mereka pun bisa mengakses internet, mengingat di zaman sekarang akses internet paling banyak dilakukan secara mobile lewat perangkat pintar.

"Cara paling mudah untuk meningkatkan peringkat penetrasi adalah dengan mengakomodir akses internet mobile lewat smartphone," kata Singh.

Selain perangkat murah, menurut Internet Society, upaya lain juga harus dilakukan. Antara lain, wireless network harus diperkuat, biaya mobile data harus dipermurah, serta promosi tentang penggunaan internet harus lebih digenjot.

Pemerintah Indonesia sebelumnya telah berikrar bakal mengucurkan dana jutaan dollar untuk mengembangkan infrastruktur akses internet dalam upaya pertumbuhan ekonomi. Dikabarkan, tahun ini 40 persen ponsel di Indonesia adalah smartphone.***kps/mpc/bs