cache/resized/568a86d8d8e289493dd92041cc167676.jpg
Doha(MedanPunya) FIFA secara resmi meluncurkan logo Piala Dunia 2022. Logo Piala Dunia yang akan ...
cache/resized/e7d56ad1eb9b6dc4f18b672b05a683f0.jpg
Bangkok(MedanPunya) Kerajaan Thailand dilaporkan merilis foto selir Raja Maha Vajiralongkorn dalam ...
cache/resized/f695b99f0277758dfe81e7b4284ae74e.jpg
Naples(MedanPunya) Dries Mertens tak menahan diri ketika ditanya soal keputusan Maurizio Sarri ...

MedanPunya - Seiring perkembangan kecerdasan buatan dan kinerja komputasi, robot semakin lama menjadi semakin pintar. Sangat mungkin rasanya bahwa manusia pada akhirnya bakal dibuat takluk oleh ciptaannya sendiri tersebut.

Menurut fisikawan terkemuka Stephen Hawking, tak butuh waktu terlalu lama sebelum hal ini benar-benar kejadian.

"Komputer akan mengalahkan manusia dengan AI (Artificial Intelligence, kecerdasan buatan) dalam  100 tahun mendatang. Saat itu terjadi, kita harus meyakinkan bahwa komputer punya tujuan yang sama dengan kita," kata Hawking dalam konferensi Zeitgeist 2015 di London awal minggu ini.

"Sejalan" di sini berarti membantu manusia, bukan malah membasminya.

Robot memang telah lama menjadi objek kekaguman sekaligus ketakutan manusia. Tak terhitung banyaknya aneka produk populer seperti film dan video game bertema robot jahat yang kelewat pintar sehingga mampu membangkang.

Ingat dengan seri Terminator? The Matrix? Atau yang terbaru Avengers: Age of Ultron? Jika Hawking benar, boleh jadi memang seperti itulah masa depan yang menunggu kita.

Bersama dengan tokoh-tokoh terkenal lain seperti pendiri Tesla Elon Musk dan pendiri Microsoft Bill Gates, Hawking adalah figur yang mengingatkan kita akan bahaya laten dari kecerdasan buatan.

"Anda bisa membayangkan teknologi (AI) semacam itu mampu mengerjai pasar finansial, mengalahkan para peneliti, memanipulasi para pemimpin manusia, serta mengembangkan senjata yang kita bahkan tak mampu mengerti," ujar Hawking.

Hawking menekankan pentingnya menjaga  AI agar tetap terkendali. Untuk mewujudkan hal ini, dia menyarankan para ilmuwan agar saling mengkomunikasikan dan mengkoordinasikan pengembangan AI.

"Dampak jangka pendek dari AI tergantung siapa yang mengendalikannya. Tapi dampak jangka panjangnya targantung AI itu bisa dikendalikan atau tidak," kata Hawking mewanti-wanti.

AI sendiri bisa didefinisikan sebagai kecerdasan yang ditanam ke mesin atau software. Pengembangan AI kini sedang terus digenjot oleh raksasa-raksasa teknologi macam Google dan Facebook.

Disadari atau tidak, AI telah banyak dilibatkan dalam kehidupan sehari-hari manusia. Contohnya teknologi personal assistant Siri di gadget Apple, atau mobil otomatis Google yang juga "disetir" oleh kecerdasan buatan.

AI memang bisa membantu membuat hidup manusia jadi lebih mudah. Tapi, seperti kata Hawking, kecerdasan buatan bisa berbalik menjadi senjata makan tuan kalau tak dipapaki dengan bijak.

"Kesuksesan membikin AI akan menjadi event terbesar di sejarah manusia. Sayangnya, sukses itu mungkin bisa yang terakhir, kecuali kita belajar menghindari resiko-resikonya," ujar Hawking.***kps/mpc/bs